MENDESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

MENDESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

 

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia menuju professional, diperlukan kedisiplinan dan penataan nalar secara konsisten melalui kegiatan penelitian. Penelitian merpakan salah satu kegiatan penting hendaknya mampu dilakukan oleh tenaga pendidik dan kependidikan. Oleh karena itu, pemahaman dan kemampuan teknis yang berkaitan dengan metode penelitian harus dikuasai dan dipraktekkan.

Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Desain penelitian adalah rencana atau strategi yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian (menguji hipotesis) dan mengontrol variabel sekunder.

Desain penelitian kualitatif pada umumnya masih memiliki tiga karakteristik yaitu tidak dinyatakan secara detail, bersifat fleksibel, berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.

Desain penelitian kualitatif pada umumnya tidak mengemukakan hipoteses yang harus dites, tetapi lebih sering berupa pertanyaan penelitian yang lebih mengarahkan pada ketercapaian pegumpulan data secara langsung.

Sedikitnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan manakala telah menetapkan untuk memilih metode penelitian kuantitatif yaitu teori, konstruk dan variable. Selain itu metode penlitian kuantitatif tersebut membutuhkan rancangan penelitian yang dapat mengkhususkan diripada obyek yang spesifik dengan cara mengeksplisitkan dan membersihkannya dari obyek lain yang tidak diteliti

Hingga kini para ahli,  masih mempertanyakan apakah pendekatan ilmu-ilmu alamiah dapat diteprakan tanpa ragu-ragu ke dalam penelitian social. Akibatnya berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan, dapatkah penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam tingkatan paradigma dapat dipadukan? Jika tidak mungkin, apakah dalam tingkatan metode masih dapat digabungkan?.

Kesalahan yang mungkin terjadi dalam pembuatan desain penelitian meliputi a) kesalahan dalam perencanaan, b)kesalahan dalam pengumpulan data, c) kesalahan dalam melakukan analisis, dan d) kesalahan dalam pelaporan.

Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan masalah akan menghasilkan informasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini ialah mengembangkan proposal yang baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian yang akan dijalankan.

Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal tersebut data yang dikoleksi harus merupakan representasi dari populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.

Kesalahan dalam melakukan analisis dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih cara menganalisis data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam memilih teknik analisis yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisis yang digunakan untuk menyimpulkan dan memanipulasi data.

Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam menginterprestasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasi dari tahap analisis data. Cara mengatasi kesalahan ini ialah hasil analisis data diperiksa oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.

 

 

  1.  Rumusan Masalah
  2. Pengertian Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif
  3. Apakah perbedaan desain metode penelitian positivistik dan metode penelitian naturalistic ?
  4. Apakah tujuan dari desain penelitian ?
  5. Apakah perbedaan dari desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif ?

 

  1. C.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan umum

Penulisan ini bertujuan untuk dapat mendesain penelitian kuantitatif dan kualitatif.

  1. Tujuan khusus
    1. Mendeskripsikan pengertian Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif
    2. Mendeskripsikan perbedaan desain metode penelitian positivistik dan metode penelitian naturalistik ditinjau dari perbedaan dalam analisis data yang dipergunakan
    3.  Menjelaskan tujuan dari desain penelitian ditinjau dari hasil yang akan dicapai dalam penelitian.
    4. Mendeskripsikan perbedaan dari desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif ditinjau dari cara mendesain penelitian kuantitatif dengan kualitatif.

 

  1. D.    Manfaat
    1. Manfaat teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat mengembangkan prinsip-prinsip mengenai cara mendesain sebuah penelitian kuantitatif ataupun kualitatif.

  1. Manfaat praktis

Hasil penulisan ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah ditingkat universitas maupun dosen. Universitas dapat memanfaatkan penulisan ini untuk mengembangkan kreatifitas dosen atau calon dosen dalam mendesain sebuah penelitian. Para dosen dapat memanfaatkan penulisan ini untuk membantu dalam menjelaskan mata kuliah yang berhubungan dengan peneltian. Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan tentang desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

  1. A.    Pengertian Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif

Ditinjau dari segi asal kata, maka kata ‘logika’ adalah  dari kata ‘logos’ yang berarti ‘pengertian atau pemikiran atau ilmu’. Sedangkan ditinjau dari makna esensialnya, maka logika adalah ‘cabang dari filsafat ilmu pengetahuan dan logika juga merupakan bagian yang sangat mendasar dalam kerangka berfikir filsafat’. Berdasarkan pengertian tersebut maka logika merupakan bagian yang sangat penting atau mendasar dalam studi filsafat ilmu pengetahuan (Oesman, A. 1978; Copi, I.M. 1978).

  • Logika Aristoteles

Logika Aristoteles, sebagaimana disinggung, berpusat dan berpuncak pada apa yang disebut dengan silog isme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri atas tiga proposisi. Setiap proposisi dapat dibedakan atas dua unsur: (1) tentang apa sesuatu dikatakan yang disebut “subjek”, (2) apa yang di katakan yang disebut “predikat”. Argumentasi silogisme menurunkan proposisi ketiga dari dua proposisi yang sudah diketahui. Kunci memahami silogisme adalah term yang dipakai dalam putusan pertama maupun kedua

, sumber berfikir logika Aristoteles adalah apa yang disebut 10 kategori, yang terdiri atas 1 substansi dan 9 aksidensi. Konsep tentang substansi ini diambil dari Plato, gurunya. Dari 10 kategori ini logika Aristoteles kemudian menyusun abstraksi-abstraksi lewat aturan yang di sebut dengan silogisme. Dengan demikian, pengetahuan, dalam pandangan logika Aristoteles adalah abstraksi-abstraksi pikiran dari hasil tangkapannya tentang substansi dan kategori-kategori

 

  • Logika induktif

Logika induktif adalah ‘sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi’

Pemakaian logika induktif ini berbahaya karena bisa terjadi terlalu cepat mengambil kesimpulan yang berlaku umum, sementara jumlah kasus yang digunakan dalam premis kurang memadai. Selain itu pula, kemungkinan premis yang digunakan kurang memenuhi kaedah-kaedah ilmiah.

Ciri-ciri logika induktif antara lain:

  • Sintesis : Kesimpulan ditarik dengan mensintesakan kasus-kasus yang digunakan dalam premis-premis.

v  General : Kesimpulan yang ditarik selalu meliputi jumlah kasus yang lebih banyak

  • Aposteriori :Kasus-kasus yang dijadikan landasan argumen merupakan hasil pengamatan inderawi
  • Kesimpulan tidak mungkin mengandung nilai kepastian mutlak (ada aspek probabilitas)

Secara umum, logika induktif sulit untuk dibuktikan kebenaran/ke-reliable­-annya dilihat dari ciri-cirinya.

Sebagai contoh:

Strong Inductive/Induktif kuat

  • Besi (logam) apabila dipanaskan memuai
  • Perunggu (logam) apabila dipanaskan memuai
  • Perak (logam) apabila dipanaskan akan memuai
  •  Jadi, logam (besi, perunggu, perak) apabila dipanaskan akan memuai.

Buktinya sangat kuat. Hampir semua logam bila dipanaskan akan memuai.

Weak Inductive/Induktif lemah

  • Apel di Toko A rasanya manis
  • Apel di Toko B rasanya manis
  • Apel di Toko C rasanya manis
  • Jadi, semua apel rasanya manis.

Buktinya lemah. Tidak semua apel rasanya manis, karena ada juga apel yang rasanya masam.

Dari contoh di atas antara Strong Inductive dan Weak Inductive, bisa diambil kesimpulan bahwa logika induktif bisa menjadi reliable ketika kebanyakan orang sudah pernah mengalaminya sendiri atau menurut pendapat kebanyakan orang secara global.

 

  • logika deduksi

Pengertian logika deduktif adalah ‘sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah berdasarkan bentuknya (form) serta kesimpulan yang dihasilkan sebagai kemestian yang diturunkan dari pangkal pikiran yang jernih atau sehat’. Atau logika deduktif adalah ‘suatu ilmu yang mempelajari asas-asas atau hokum-hukum dalam berfikirm hokum-hukum tersebut harus ditaati supaya pola berfikirnya benar dan mencapai kebenaran’ (Sudiarja, dkk., 2006; Copi, I.M. 1978).

v  Dalam kajian logika deduktif, secara umum macam-macam definisi dibedakan menjadi tiga, yaitu:Definisi nominalis, yaitu ‘definisi yang menjelaskan sebuah istilah’. Definisi nominalis dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) definisi sinonim, yaitu penjelasan dengan memberi arti persamaan dari istilah yang didefinisikan. Contoh: Valid adalah ‘sahih’; Sawah-ladang adalah ‘lahan pertanian terbuka’, Universitas adalah lembaga pendidikan tinggi tempat mendidik mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan sebagainya; (2) definisi simbolik, yaitu penjelasan dengan memberikan persamaan dari istilah berbentuk simbol-simbol. Contoh, ( p => q ) = df – ( p Λ – q ), di baca, Jika p maka q, didefinisikan non (p dan non q); dan (3) definisi etimologis, yaitu penjelasan istilah dengan memberikan uraian asal usul istilah atau kata tersebut. Contoh. pengertian kata ‘filsafat’ berasal dari bahwa Yunani terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta dan ‘sophia’ yang berarti kebijaksanaan, dan sebagainya.

v  Definisi realis, yaitu ‘penjelasan tentang sesuatu atau hal yang ditandai oleh suatu istilah’. Definisi realis dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) definisi essensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan bagian penting atau mendasar tentang sesuatu hal yang didefinisikan. Contoh, definisi ‘manusia’, adalah makhluk yang mempunyai unsur jasad, jiwa dan ruh; Definisi ‘nilai’, adalah sesuatu yang diagungkan atau dijadikan pedoman hidup; (2) definisi deskriptif, yaitu penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dimiliki oleh sesuatu yang didefinisikan. Contoh, Bangsa Indonesia adalah ‘bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan’, dan sebagainya.

v  Definisi praktis, yaitu ‘penjelasan tentang sesuatu istilah atau kata dari segi manfaat dan tujuan yang hendak dicapai’. Contoh: (1) ‘filsafat’ adalah ‘pemikiran secara kritis, sistematis, rasional, logis, mendalam dan menyeluruh untuk mencari hakikat kebenaran’; (2) ‘Universitas atau Institut’ adalah lembaga pendidikan tinggi untuk mendidik dan mencetak sarjana yang berkualitas yang berguna bagi masyarakat’ (Mundiri, 1994; Maram.R.R. 2007).

Ciri-ciri dari logika deduktif adalah:

v  Analitis : Kesimpulan daya tarik hanya dengan menganalisa proposisi-proposisi atau premis-premis yang sudah ada

v  Tautologies : Kesimpulan yang ditarik sesungguhnya secara tersirat sudah terkandung dalam premis-premisnya

v  Apirori :Kesimpulan ditarik tanpa pengamatan indrawi atau operasi kampus.

v  Argument deduktif selalu dapat nilai sahih atau tidaknya.

Penyimpulan deduktif, yaitu pengambilan kesimpulan dari prinsip atau dalil atau kaidah atau hukum menuju contoh-contoh (kesimpulan dari umum ke khusus). Contoh: (a) – Setiap agama mengakui adanya Tuhan; – Budiman pemeluk agama Islam; – Jadi, Budiman mengakui (beriman) kepada Tuhan Yang Esa; (b) – Universitas Gadjah Mada mempunyai beberapa fakultas dan program studi; – Ani mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; – Jadi, Ani mahasiswa Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Logika deduktif bisa berbahaya apabila salah dalam mengambil/menyusun kesimpulan. Sebagai contoh:

v  Pasir adalah material dasar sungai (premis major)

v  Lempung adalah material dasar sungai (premis minor)

Lempung adalah pasir (kesimpulan)

 Semua karyawan di PT. Anaconda mempunyai IQ tinggi (premis major)

v  Komar bukan karyawan di PT. Anaconda (premis minor)

Komar tidak ber-IQ tinggi (kesimpulan)

Kesalahan ini sering terjadi karena menganggap kata “adalah” selalu berarti “sama dengan”. Perlu diingat bahwa kata “adalah” tidak selalu berarti “sama dengan”.

  1. B.     Perbedaan Desain Metode Penelitian Positivistik dan Metode Penelitian Naturalistik

Banyak ahli metodologi penelitian mempertentangkan metodologi penelitian positivistik dari  metodologi penelitian naturalistik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika metodologi penelitian positivistik bekerja dengan analisis data yang mengikuti metode deduktif, maka metodologi penelitian naturalistik bekerja dengan metode induktif. Analisis data induktif yang mempergunakan paradigma naturalistik adalah analisis terhadap data dari lapangan yang empiris, individual, dan spesifik yang selanjutnya dilakukan kategorisasi.  Jika metodologi positivistik (terutama metodologi rasionalistik) merupakan metodologi yang bebas nilai (value free, wart frei), maka metodologi kualitatif (khususnya metodologi naturalistik) yang memanfaatkan analisis induktif tersebut, sesungguhnya tidak juga berangkat dengan “otak yang hampa” (empty headed), tetapi dengan “jiwa terbuka” (open minded).

Berbeda dengan metodologi kualitatif-naturalistik, konsep eksplanasi yang mengikuti metodologi positivistik akan berada disekitar pemikiran bahwa seluruh perisitiwa sosial merupakan suatu wilayah yang tidak keluar dari wilayah hubungan sebab-akibat (kausal verband). Anggapan tersebut ditolak oleh paradigma kualitatif, anggapan yang mengatakan bahwa manusia mampu menghasilkan akibat dengan cara mengantisipasi sebab. Dengan demikian maka unsur ekspektasi memegang peranan penting yang lebih kuat daripada berpikir determinatif yang mengikuti hukum-hukum kausal. Jika metodologi positivistik menyusun kausalitas dengan cara linier, maka metodologi fenomenologis menganggap kausalitas bekerja tidak hanya linier tetapi juga timbal-balik(inter dependen) dan ideterminatif. Munculnya hubungan kausalitas yang timbal-balik menyebabkan hubungan linier tidak terjadi. Namun yang terjadi adalah hubungan yang saling berperan dan sederajat (dalam arti bukan hanya berperan sebagai sebab atau akibat belaka, namun terbuka pula peranan yang sebaliknya). Pengaruh positivisme terhadap metodologi penelitian secara khusus tampak dari keharusan penelitian itu untuk bersikap bebas nilai. Penelitian itu harus menarik garis yang tegas dengan objek kajiannya, karena metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Sedangkan penelitian fenomonologi khususnya penelitian naturalistik beranggapan bahwa sejauh apapun yang dilakukan manusia (peneliti) untuk bersikap objektif, ia akan tetap terlibat dengan kepentingan dan harapan yang akan memberinya bumbu warna yang sukar untuk disterilkan. Ia tetap tidak akan bebas nilai, nilai itu akan inklusif dalam diri manusia.

 

  1. C.    Tujuan Desain Penelitian

Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil dapat dipercaya, kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dapat dipecaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias potensial yang dapat mengubah temuan. Bias adalah suatu bentuk salah sistematik (systematic error), suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan merusak mutu penelitian.

 

  1. D.    Perbedaan Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif

Desain penelitian kualitatif pada umumnya tidak mengemukakan hipoteses yang harus dites, tetapi lebih sering berupa pertanyaan penelitian yang lebih mengarahkan pada ketercapaian pegumpulan data secara langsung. Desain penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ISI

  1. A.    Pengertian Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif

 

  • Logika Aristoteles

Logika Aristoteles kadan-kadang disebut oleh para ahli sebagai “logika tradisional katerostik”. Logika ini menyusun suatu hubungan hingga dapat menmpakkan hubungan antarproposisi ( hubungan antar konsep ). Agar dapat  mengeneralisasikan hasil penelitian, maka logika formal ini perlu mencari dukungan dari asas-asas atau hokum-hukum hubungan formal antarproposisi itu. Jika erfikir melalui logika Aristoteles, maka sedang menguji kebenaran formal terhadap proposisi khusus yang disebut “premis minor”. Jika terjadi pertentangan antar premis, maka kebenaran proposisi khusus perlu ditolak.

Berkaitan dengan pengertian premis mayor dan premis minor , maka proposisi menurut para ahli logika perlu dibedakan ke dalam :

  1. Proposisi universal yang merupakan pernyataaan mengenai kebenaran yang cosmopolitan, tdak terikat tempat , waktu, subyek dan peristiwa.
  2. Proposisi subyektif yang lahir sebagai pernyataan mengenai kebenaran yang masih perlu barada di bawah pengujian teoretik atau empiric.

Proposisi yang diajukan akan berkaitan erat dengan konsep persepsi mengenai sesuatu. Konsep atau persepsi mengenai sesuatu di luar diri kita disebut “kalkulus”. Orang mengenal dua buah kalkulus , termasuk “kalkulus jenis” yang sebagai “sesuatu atau bukan sesuatu”, dan “kalkulus probalistik” yang menghasilkan proposisi dalam bentuk pernyataan kebenaran yang relative, yang memberikan alternative benar atau salah, ketergantungan pada tempat, waktu, subyek, dan peristiwa.

  • Logika Deduktif

logika deduktif menyusun  bangunan  pembuktian  kebenaranya bertolak dari proposisi katagorik yang menyerupai logika aristoteles. Namun, bolaman logika Aristoteles mendasarkan diri pada kebenaran material.dengan demikian logika deduktif ini akan mengujikebenaran material suatu kasus berdasarkan aksioma, teori, dalil hokum tesis,, atau proposisi universal lain yag disebut “premis”.

Sebagai pernyataan yamg tidak memerlukan pembuktian, maka aksioma bertindak sebagai premisuntuk banyak argument, namun sebagai konklusi sama sekali tidak. Tesis merupakan pernyataan yang kebenarannya telah diuji, baik empiric maupun teoretik-argumentatif. Teori sebagai pemikiran yang abstrak dan spekulatif merupakn sebuah system yang terdiri atas dalil-dalil dan hipotesis-hipotesis dengan dasar tertentu.

 

  • Logika Induktif

Logika induktif berangkat dari kasus-kasus individual tau hal-hal yang khusus menuju ke sesuatu yang umum, dari keputusan-keputusan spesifik ke keputusan-keputusan universal. Penelitian yang menggunakan desain model logika induktif akan berangkat dari penelitian empiric-konkrit di lapangan dengan cara menghimpun data dengan berbagai metode. Selanjutnya, data-data itu ditabulasi menurut katagori-katagori tertentu, dianalisis, diinterpretasi dan kemudian dicoba untuk ditransfer kepada kasus-kasus individual-konkrit lainnya. Oleh karena sifat induktifnya itu, peeliti tidak selalu merasa perlu membuat desain penalitian awal.

 

 

  1. B.     Desain Metode Penelitian Positivistik dan Metode Penelitian Naturalistik

 

Banyak ahli metodologi penelitian mempertentangkan metodologi penelitian positivistik dari metodologi penelitian naturalistik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika metodologi penelitian positivistik bekerja dengan analisis data yang mengikuti metode deduktif, maka metodologi penelitian naturalistik bekerja dengan metode induktif. Analisis data induktif yang mempergunakan paradigma naturalistik adalah analisis terhadap data dari lapangan yang empiris, individual, dan spesifik yang selanjutnya dilakukan kategorisasi.  Jika metodologi positivistik (terutama metodologi rasionalistik) merupakan metodologi yang bebas nilai (value free, wart frei), maka metodologi kualitatif (khususnya metodologi naturalistik) yang memanfaatkan analisis induktif tersebut, sesungguhnya tidak juga berangkat dengan “otak yang hampa” (empty headed), tetapi dengan “jiwa terbuka” (open minded).

 

Berbeda dengan metodologi kualitatif-naturalistik, konsep eksplanasi yang mengikuti metodologi positivistik akan berada disekitar pemikiran bahwa seluruh perisitiwa sosial merupakan suatu wilayah yang tidak keluar dari wilayah hubungan sebab-akibat (kausal verband). Anggapan tersebut ditolak oleh paradigma kualitatif, anggapan yang mengatakan bahwa manusia mampu menghasilkan akibat dengan cara mengantisipasi sebab. Dengan demikian maka unsur ekspektasi memegang peranan penting yang lebih kuat daripada berpikir determinatif yang mengikuti hukum-hukum kausal.

 

Jika metodologi positivistik menyusun kausalitas dengan cara linier, maka metodologi fenomenologis menganggap kausalitas bekerja tidak hanya linier tetapi juga timbal-balik(inter dependen) dan ideterminatif. Munculnya hubungan kausalitas yang timbal-balik menyebabkan hubungan linier tidak terjadi. Namun yang terjadi adalah hubungan yang saling berperan dan sederajat (dalam arti bukan hanya berperan sebagai sebab atau akibat belaka, namun terbuka pula peranan yang sebaliknya).

 

Pengaruh positivisme terhadap metodologi penelitian secara khusus tampak dari keharusan penelitian itu untuk bersikap bebas nilai. Penelitian itu harus menarik garis yang tegas dengan objek kajiannya, karena metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Sedangkan penelitian fenomonologi khususnya penelitian naturalistik beranggapan bahwa sejauh apapun yang dilakukan manusia (peneliti) untuk bersikap objektif, ia akan tetap terlibat dengan kepentingan dan harapan yang akan memberinya bumbu warna yang sukar untuk disterilkan. Ia tetap tidak akan bebas nilai, nilai itu akan inklusif dalam diri manusia.

 

 

  1. C.    Tujuan Desain Penelitian

Penelitian yang dibimbing oleh keinginan untuk memperoleh pengetahuan atau untuk memecahkan masalah akan membuat desain (rancangan) penelitian. Penyelesaian dari desain penelitian dalam kenyataannya merupakan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hal-hal berikut :

 

  1. Kajian dan jenis data apakah yang peneliti butuhkan?
  2. Apakah sebabnya peneliti melakukan kajian ini?
  3. Dimanakah data dapat peneliti temukan?
  4. Di manakah, atau di wilayah apakah, kajian itu akan dilakukan?
  5. Berapa lama, atau pada periode waktu kapankah, kajian itu akan dilakukan?
  6. Berapa banyakkah bahan atau berapa kasuskah akan peneliti butuhkan?
  7. Dasar pemilihan apakah yang peneliti gunakan ?
  8. Teknik penghimpunan data apakah yang akan peneliti pergunakan?

Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rancangan kajian yang perlu peneliti pertimbangkan dalam pembuatan keputusan akan berkaitan dengan apa, dimana, kapan, berapa, dan dengan alat apa. Jika perkembangan lebih jauh, rancangan penelitian itu sedikitnya akan mencakup hal-hal berikut ini :

  1. Sumber informasi yang harus dijaring
  2. Sifat atau hakikat kaijian
  3. Tujuan kajian
  4. Konteks kajian dengan masalah-masalah lain
  5. Wilayah geografis yang akan diliput oleh kajian
  6. Periode waktu sebagai pedoman
  7. Dimensi-dimensi kajian
  8. Dasar pemilihan data, dan
  9. Teknik yang digunakan dalam penghimpunan data

 

 

 

 

  1. D.    Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif

1)        Desain Penelitian Kuantitatif

Dua hal yang biasa dilakukan peneliti yang menyusun desain penelitian kuantitatif yang di dasarkan pada positivism. Dua hal tersbut adalah :

v Prosedur baku penelitian kuantitatif

  1. Langkah pertama : Muncul dan tumbuhnya minat peneliti terhadap masalah.

Dalam langkah ini peneliti tertarik dan termotivasi untuk mempelajari dan meneliti masalah tertentu. Pada awalnya masalah itu mungkin masih bersifat umum serta masih campur-aduk.

Pada langkah ini peneliti biasanya melakukan dua hal yaitu menetapkan audiens dan menelusuri kepustakaan yang relevan.

  1. Langkah kedua : perumusan masalah.

Masalah yang masih berupa masalah utama kemudian diuraikan dan dirinci kedalam sejumlah submasalah. Masalah dan sub masalah itu acapkali menghasilkan hipotesis utama yang lebih lanjut dijabarkan ke dalam sub-sub hipotesis.

  1. Langkah ketiga : memilih metode penelitian.

Peneliti harus dapat memilih dan menentukan metode mana yang tepat sehingga sesuai dengan masalah yang akan dipecahkannya. Metode yang digunakan ini harus sah (valid).

  1. Langkah keempat : menentukan populasi dan menetapkan sampel.

Sebelum melakukan penelitian dilapangan peneliti harus menentukan populasi dan sampel representatif mana yang terpilih dan dipergunakan dalam penelitiannya.

  1. Langkah kelima : mengembangkan instrumen penelitian.

Setelah mengetahui tujuan, masalah, populasi, dan sampel penelitian yang tepat, peneliti siap untuk mengembangkan instrumen penelitian yang memilki validitas konstruk.

 

 

 

  1. Langkah keenam : memasuki lapangan penelitian

Apabila ujicoba, evaluasi, dan penyempurnaan instrumen telah memuaskan maka peneliti kemudian terjun ke lapangan penelitian dan mulai menghimpun data yang diperlukan.

 

  1. Langkah terakhir : menyusun laporan.

Penyusunan laporan biasanya mengikuti format baku yang sangat lazim untuk penelitian kuantitatif. Dalam tahapan ini peneliti perlu meninjau ulang seluruh proses dan temuan penelitian.

 

v Teknik untuk Mengurangi Kesalahan

Mendesain penelitian kuantitatif penting untuk mempertimbangkan siapakah yang akan dinilai (subjek), dengan apa mereka akan dinilai (instrumen), bagaimana cara mereka akan dinilai (prosedur untuk penghimpunan data). Beberapa teknik untuk mengurangi kesalahan (error) dalam penelitian kuantitatif yaitu :

  1. randomisasi subjek diperlukan baik dalam pemilihan subyek dari suatu populasi yang lebih besar, atau dalam menentukan subyek-subyek untuk kelompok-kelompok investigasi pengaruh sebuah variable atas lainnya.
  2. mempertahankan kondisi-kondisi konstan, membangun kondisi-kondisi kedalam desain sebagai variabel-variabel indepenen, dan membuat penyesuaian statistik. Perlu mendapat tekanan kuat, bahwa dalam kajian kuantitatif, kontrol terhadap variabel asing (extraneous variables) merupakan sesuatu yang esensial. Peneliti harus terus menerus memeriksa faktor-faktor (variabel-variabel asing) yang dapat mempengaruhi hasil atau kondisi kajian. Oleh sebab itu, segala variabel asing harus diasingkan.

 

2)        Desain penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif sama seperti kajian kuantitatif yang membutuhkan rencana untuk memilih situs dan partisipan dan untuk menghimpun data. Rencana penelitian kualitatif tidak seperti penelitian kuantitatif , mengacu pada “desain darurat” (emergent design) atau “desain percobaan” (tentative design).  Dalam desain tersebut, setiap penambahan keputusan penelitian tergantung pada informasi sebelumnya. Desain darurat, dalam kenyataannya tampak “beredar” atau “berputar” (circular), karena proses sampling yang bertujuan (purposeful sampling), penghimpunan data, dan analisis data parsial dilakukan simultan dan interaktif, bukan langkah-langkah berurutan yang berlainan. Peneliti kualitatif sama berkepentingan terhadap validitas desain seperti penelitian kuantitatif, tetapi metode yang digunakan untuk membangun validitas intern dan validitas eksternnya (jauh) berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif

 

  1. 1.      Logika Aristoteles

Logika Aristoteles kadan-kadang disebut oleh para ahli sebagai “logika tradisional katerostik”. Logika ini menyusun suatu hubungan hingga dapat menmpakkan hubungan antarproposisi ( hubungan antar konsep ). Agar dapat  mengeneralisasikan hasil penelitian, maka logika formal ini perlu mencari dukungan dari asas-asas atau hokum-hukum hubungan formal antarproposisi itu. Jika erfikir melalui logika Aristoteles, maka sedang menguji kebenaran formal terhadap proposisi khusus yang disebut “premis minor”. Jika terjadi pertentangan antar premis, maka kebenaran proposisi khusus perlu ditolak.

Berkaitan dengan pengertian premis mayor dan premis minor , maka proposisi menurut para ahli logika perlu dibedakan ke dalam :

  1. Proposisi universal yang merupakan pernyataaan mengenai kebenaran yang cosmopolitan, tdak terikat tempat , waktu, subyek dan peristiwa.
  2. Proposisi subyektif yang lahir sebagai pernyataan mengenai kebenaran yang masih perlu barada di bawah pengujian teoretik atau empiric.

Proposisi yang diajukan akan berkaitan erat dengan konsep persepsi mengenai sesuatu. Konsep atau persepsi mengenai sesuatu di luar diri kita disebut “kalkulus”. Orang mengenal dua buah kalkulus , termasuk “kalkulus jenis” yang sebagai “sesuatu atau bukan sesuatu”, dan “kalkulus probalistik” yang menghasilkan proposisi dalam bentuk pernyataan kebenaran yang relative, yang memberikan alternative benar atau salah, ketergantungan pada tempat, waktu, subyek, dan peristiwa.

 

  1. 2.      Logika Deduktif

logika deduktif menyusun  bangunan  pembuktian  kebenaranya bertolak dari proposisi katagorik yang menyerupai logika aristoteles. Namun, bolaman logika Aristoteles mendasarkan diri pada kebenaran material.dengan demikian logika deduktif ini akan mengujikebenaran material suatu kasus berdasarkan aksioma, teori, dalil hokum tesis,, atau proposisi universal lain yag disebut “premis”.

Sebagai pernyataan yamg tidak memerlukan pembuktian, maka aksioma bertindak sebagai premisuntuk banyak argument, namun sebagai konklusi sama sekali tidak. Tesis merupakan pernyataan yang kebenarannya telah diuji, baik empiric maupun teoretik-argumentatif. Teori sebagai pemikiran yang abstrak dan spekulatif merupakn sebuah system yang terdiri atas dalil-dalil dan hipotesis-hipotesis dengan dasar tertentu.

 

  1. Logika Induktif

Logika induktif berangkat dari kasus-kasus individual tau hal-hal yang khusus menuju ke sesuatu yang umum, dari keputusan-keputusan spesifik ke keputusan-keputusan universal. Penelitian yang menggunakan desain model logika induktif akan berangkat dari penelitian empiric-konkrit di lapangan dengan cara menghimpun data dengan berbagai metode. Selanjutnya, data-data itu ditabulasi menurut katagori-katagori tertentu, dianalisis, diinterpretasi dan kemudian dicoba untuk ditransfer kepada kasus-kasus individual-konkrit lainnya. Oleh karena sifat induktifnya itu, peeliti tidak selalu merasa perlu membuat desain penalitian awal.

 

  1. B.  Perbedaan Desain Metode Penelitian Positivistik Dan Metode Penelitian Naturalistic

Banyak ahli metodologi penelitian mempertentangkan metodologi penelitian positivistik dari metodologi penelitian naturalistik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika metodologi penelitian positivistik bekerja dengan analisis data yang mengikuti metode deduktif, maka metodologi penelitian naturalistik bekerja dengan metode induktif. Analisis data induktif yang mempergunakan paradigma naturalistik adalah analisis terhadap data dari lapangan yang empiris, individual, dan spesifik yang selanjutnya dilakukan kategorisasi.  Jika metodologi positivistik (terutama metodologi rasionalistik) merupakan metodologi yang bebas nilai (value free, wart frei), maka metodologi kualitatif (khususnya metodologi naturalistik) yang memanfaatkan analisis induktif tersebut, sesungguhnya tidak juga berangkat dengan “otak yang hampa” (empty headed), tetapi dengan “jiwa terbuka” (open minded).

 

Berbeda dengan metodologi kualitatif-naturalistik, konsep eksplanasi yang mengikuti metodologi positivistik akan berada disekitar pemikiran bahwa seluruh perisitiwa sosial merupakan suatu wilayah yang tidak keluar dari wilayah hubungan sebab-akibat (kausal verband). Anggapan tersebut ditolak oleh paradigma kualitatif, anggapan yang mengatakan bahwa manusia mampu menghasilkan akibat dengan cara mengantisipasi sebab. Dengan demikian maka unsur ekspektasi memegang peranan penting yang lebih kuat daripada berpikir determinatif yang mengikuti hukum-hukum kausal.

 

Jika metodologi positivistik menyusun kausalitas dengan cara linier, maka metodologi fenomenologis menganggap kausalitas bekerja tidak hanya linier tetapi juga timbal-balik(inter dependen) dan ideterminatif. Munculnya hubungan kausalitas yang timbal-balik menyebabkan hubungan linier tidak terjadi. Namun yang terjadi adalah hubungan yang saling berperan dan sederajat (dalam arti bukan hanya berperan sebagai sebab atau akibat belaka, namun terbuka pula peranan yang sebaliknya).

 

Pengaruh positivisme terhadap metodologi penelitian secara khusus tampak dari keharusan penelitian itu untuk bersikap bebas nilai. Penelitian itu harus menarik garis yang tegas dengan objek kajiannya, karena metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Sedangkan penelitian fenomonologi khususnya penelitian naturalistik beranggapan bahwa sejauh apapun yang dilakukan manusia (peneliti) untuk bersikap objektif, ia akan tetap terlibat dengan kepentingan dan harapan yang akan memberinya bumbu warna yang sukar untuk disterilkan. Ia tetap tidak akan bebas nilai, nilai itu akan inklusif dalam diri manusia.

 

C. Tujuan Desain Penelitian

Penelitian yang dibimbing oleh keinginan untuk memperoleh pengetahuan atau untuk memecahkan masalah akan membuat desain (rancangan) penelitian. Penyelesaian dari desain penelitian dalam kenyataannya merupakan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hal-hal berikut :

 

  1. Kajian dan jenis data apakah yang peneliti butuhkan?
  2. Apakah sebabnya peneliti melakukan kajian ini?
  3. Dimanakah data dapat peneliti temukan?
  4. Di manakah, atau di wilayah apakah, kajian itu akan dilakukan?
  5. Berapa lama, atau pada periode waktu kapankah, kajian itu akan dilakukan?
  6. Berapa banyakkah bahan atau berapa kasuskah akan peneliti butuhkan?
  7. Dasar pemilihan apakah yang peneliti gunakan ?
  8. Teknik penghimpunan data apakah yang akan peneliti pergunakan?

Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rancangan kajian yang perlu peneliti pertimbangkan dalam pembuatan keputusan akan berkaitan dengan apa, dimana, kapan, berapa, dan dengan alat apa. Jika perkembangan lebih jauh, rancangan penelitian itu sedikitnya akan mencakup hal-hal berikut ini :

  1. Sumber informasi yang harus dijaring
  2. Sifat atau hakikat kaijian
  3. Tujuan kajian
  4. Konteks kajian dengan masalah-masalah lain
  5. Wilayah geografis yang akan diliput oleh kajian
  6. Periode waktu sebagai pedoman
  7. Dimensi-dimensi kajian
  8. Dasar pemilihan data, dan
  9. Teknik yang digunakan dalam penghimpunan data

 

D. Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif

  1. Desain Penelitian Kuantitatif

Dua hal yang biasa dilakukan peneliti yang menyusun desain penelitian kuantitatif yang di dasarkan pada positivism. Dua hal tersbut adalah :

v Prosedur baku penelitian kuantitatif

Langkah pertama : Muncul dan tumbuhnya minat peneliti terhadap masalah.

Dalam langkah ini peneliti tertarik dan termotivasi untuk mempelajari dan meneliti masalah tertentu. Pada awalnya masalah itu mungkin masih bersifat umum serta masih campur-aduk.

Pada langkah ini peneliti biasanya melakukan dua hal yaitu menetapkan audiens dan menelusuri kepustakaan yang relevan.

Langkah kedua : perumusan masalah.

Masalah yang masih berupa masalah utama kemudian diuraikan dan dirinci kedalam sejumlah submasalah. Masalah dan sub masalah itu acapkali menghasilkan hipotesis utama yang lebih lanjut dijabarkan ke dalam sub-sub hipotesis.

Langkah ketiga : memilih metode penelitian.

Peneliti harus dapat memilih dan menentukan metode mana yang tepat sehingga sesuai dengan masalah yang akan dipecahkannya. Metode yang digunakan ini harus sah (valid).

Langkah keempat : menentukan populasi dan menetapkan sampel.

Sebelum melakukan penelitian dilapangan peneliti harus menentukan populasi dan sampel representatif mana yang terpilih dan dipergunakan dalam penelitiannya.

Langkah kelima : mengembangkan instrumen penelitian.

Setelah mengetahui tujuan, masalah, populasi, dan sampel penelitian yang tepat, peneliti siap untuk mengembangkan instrumen penelitian yang memilki validitas konstruk.

Langkah keenam : memasuki lapangan penelitian

Apabila ujicoba, evaluasi, dan penyempurnaan instrumen telah memuaskan maka peneliti kemudian terjun ke lapangan penelitian dan mulai menghimpun data yang diperlukan.

 

Langkah terakhir : menyusun laporan.

Penyusunan laporan biasanya mengikuti format baku yang sangat lazim untuk penelitian kuantitatif. Dalam tahapan ini peneliti perlu meninjau ulang seluruh proses dan temuan penelitian.

v Teknik untuk Mengurangi Kesalahan

Mendesain penelitian kuantitatif penting untuk mempertimbangkan siapakah yang akan dinilai (subjek), dengan apa mereka akan dinilai (instrumen), bagaimana cara mereka akan dinilai (prosedur untuk penghimpunan data). Beberapa teknik untuk mengurangi kesalahan (error) dalam penelitian kuantitatif yaitu :

  • randomisasi subjek diperlukan baik dalam pemilihan subyek dari suatu populasi yang lebih besar, atau dalam menentukan subyek-subyek untuk kelompok-kelompok investigasi pengaruh sebuah variable atas lainnya.
  • mempertahankan kondisi-kondisi konstan, membangun kondisi-kondisi kedalam desain sebagai variabel-variabel indepenen, dan membuat penyesuaian statistik. Perlu mendapat tekanan kuat, bahwa dalam kajian kuantitatif, kontrol terhadap variabel asing (extraneous variables) merupakan sesuatu yang esensial. Peneliti harus terus menerus memeriksa faktor-faktor (variabel-variabel asing) yang dapat mempengaruhi hasil atau kondisi kajian. Oleh sebab itu, segala variabel asing harus diasingkan.

 

  1. Desain penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif sama seperti kajian kuantitatif yang membutuhkan rencana untuk memilih situs dan partisipan dan untuk menghimpun data. Rencana penelitian kualitatif tidak seperti penelitian kuantitatif , mengacu pada “desain darurat” (emergent design) atau “desain percobaan” (tentative design).  Dalam desain tersebut, setiap penambahan keputusan penelitian tergantung pada informasi sebelumnya. Desain darurat, dalam kenyataannya tampak “beredar” atau “berputar” (circular), karena proses sampling yang bertujuan (purposeful sampling), penghimpunan data, dan analisis data parsial dilakukan simultan dan interaktif, bukan langkah-langkah berurutan yang berlainan. Peneliti kualitatif sama berkepentingan terhadap validitas desain seperti penelitian kuantitatif, tetapi metode yang digunakan untuk membangun validitas intern dan validitas eksternnya (jauh) berbeda.

Desain penelitian kualitatif pada umumnya tidak mengemukakan hipoteses yang harus dites, tetapi lebih sering berupa pertanyaan penelitian yang lebih mengarahkan pada ketercapaian pegumpulan data secara langsung. Desain penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

 

 

  1. A.    SIMPULAN

 

  1. Logika Aristoteles kadan-kadang disebut oleh para ahli sebagai “logika tradisional katerostik”. Logika ini menyusun suatu hubungan hingga dapat menmpakkan hubungan antarproposisi ( hubungan antar konsep ).

logika deduktif menyusun  bangunan  pembuktian  kebenaranya bertolak dari proposisi katagorik yang menyerupai logika aristoteles.

Logika induktif berangkat dari kasus-kasus individual tau hal-hal yang khusus menuju ke sesuatu yang umum, dari keputusan-keputusan spesifik ke keputusan-keputusan universal.

  1. Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil dapat dipercaya, kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dapat dipecaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias potensial yang dapat mengubah temuan. Bias adalah suatu bentuk salah sistematik (systematic error), suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan merusak mutu penelitian.
  2. Metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi, yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Metode penelitian naturalistik adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) .
  3. Desain penelitian kualitatif pada umumnya masih memiliki tiga karakteristik seperti berikut. a) tidak dinyatakan secara detail, b) bersifat fleksibel, c) berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.

Mendesain penelitian kuantitatif penting untuk mempertimbangkan siapakah yang akan dinilai (subjek), dengan apa mereka akan dinilai (instrumen), bagaimana cara mereka akan dinilai (prosedur untuk penghimpunan data).

 

  1. B.     IMPLIKASI
    1. Peneliti yang memahami pengertian  Logika Aristoteles, logika deduktif, dan logika induktif   maka menguasai pengertian tentang desain penelitian
    2. Jika Peneliti yang memulai penelitiannya tanpa ada suatu rencana penelitian tertentu maka peneliti akan menghadapi banyak kendala.
    3. Jika Peneliti yang membuat keputusan sebelum memulai penelitiannya maka akan meminimalkan  masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pelaksanaan penelitian
    4. Jika peneliti mrngetahui perbedaan desain penelitian kuantitatif dan kualitatif maka penulis dapat menentukan desain penelitian yang mana yang harus digunakan.

 

  1. C.    SARAN
    1. Kepada para pembaca yang budiman, didalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Penulis mengharapkankan kritik yang membanggun.
    2. Kepada peneliti berikutnya, supaya dapat meminimalkan masalah yang mungkin muncul dengan mengambil beberapa pertimbangan supaya tidak terdapat banyak kendala dalam pelaksanaan penelitian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sarwono, Jonathan,. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 2006.

Asim, Dr. M.Pd, Sistematika Penelitian Pengembangan. Malang : Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Malang, 2001.

http://my.opera.com/Putra%20Pratama/blog/tugas-lt

http://adhimaswijaya.wordpress.com/2010/09/22/perbedaan-penelitian-kualitatif-dan-kuantitatif/

http://h0404055.wordpress.com/2010/04/03/ragam-desain-penelitian-menurut-tujuannya/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: