competitive learning

competitive learning

PENDAHULUAN

Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia karena pendidikan inklusi lebih menitikberatkan pada pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, diantaranya adalah pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Salah satu kelompok yang paling tereksklusi dalam memperoleh pendidikan adalah siswa penyandang cacat. Tapi ini bukanlah kelompok yang homogen. Sekolah dan layanan pendidikan lainnya harus fleksibel dan akomodatif untuk memenuhi keberagaman kebutuhan siswa.

Akan tetapi banyak hambatan yang dialami oleh sekolah inklusi diantaranya yaitu adanya kesenjangan sosial antara anak yang normal dengan anak yang berkebutuhan khusus, seperti dalam pemberian hukuman bagi anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Anak yang berkebutuhan khusus akan lebih diperingan hukumannya dibanding dengan anak yang normal karena kekurangan yang dimiliki oleh anak yang berkebutuhan khusus. Hal inilah yang memicu kesenjangan sosial karena anak yang normal akan merasa diperlakukan tidak adil.

PEMBAHASAN

 

Definisi sekolah inklusi:

  1. Sekolah inklusi adalah sekolah yang mengijinkan peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus untuk dapat belajar dikelas pendidikan umum( Choate, 2000 dalam Sunarjo, 2006).
  2. Pengertian inklusi secara umum berarti bahwa peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan pelayanan pendidikan utama didalam kelas umum dan dibawah tanggung jawab seorang guru kelas umum (Mastropieri dan Scruggs,2000).

Konsep-Konsep yang terkait dengan pendidikan inklusi

Konsep tentang anak

  1. Semua anak adalah individu yang potensial dan unik.
  2. Semua anak berhak memperoleh pendidikan didalam komunitasnya sendiri
  3. Semua anak dapat belajar dan siapapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar.
  4. Semua anak membutuhkan dukungan untuk belajar.
  5. Pengajaran yang terfokus pada anak bermanfaat bagi semua anak.

Konsep tentang pendidikan

  1. Pendidikan lebih luas daripada persekolahan formal.
  2. Sistem pendidikan yang fleksibel dan responsive.
  3. Lingkungan pendidikan yang ramah dan dapat  memupuk kemampuan atau potensi.
  4. Peningkatan mutu sekolah adalah sekolah yang efektif.
  5. Pendekatan sekolah yang menyeluruh dan kolaborasi antarmitra.

Konsep tentang keberagaman dan diskriminasi

  1. Memberantas diskriminasi dan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi
  2. Merespon atau merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan masalah.
  3. Pendidikkan inklusif mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang menghargai dan menghormati perbedaan.

Pendidikan Untuk Semua

Deklarasi dunia Jomtien tentang Pendidikan untuk semua di Thailand tahun 1990 mencoba untuk menjawab beberapa tantangan ini. Deklarasi Jomtien tersebut melangkah lebih jauh daripada Deklarasi universal dalam pasal III tentang “ Universalisasi Akses dan Mempromosikan Kesetaraan “. Dinyatakan bahwa terdapat kesenjangan pendidikan dan bahwa berbagai kelompok tertentu rentan akan diskriminasi dan eksklusi. Ini mencakup anak perempuan, orang miskin, anak jalanan dan anak pekerja, penduduk pedesaan dan daerah terpencil, etnik minoritas dan kelompok-kelompok lainnya dan secara khusus disebutkan para penyandang cacat.

Dasar Hukum Undang-Undang RI

Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak

Pasal 48 : pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 tahun untuk semua anak.

Pasal 49 : negara, pemerintah, keluarga dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.

Pasal 51 : anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk merperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.

Pasal 52 : anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus.

Pasal 53 : pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan Cuma-Cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal didaerh terpencil.

Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus ( Usia Sekolah)

SISDIKNAS PASAL 32 AYAT 1 TUNANETRA

  1. Tunarungu,Tunawicara
  2. Tunagrahita : ringan ( IQ = 50 – 70), sedang ( IQ = 25-50), (dan down syndrome)
  3. Tunadaksa : ringan, sedang
  4. Tunalaras ( disruptive) HIV AIDS dan narkoba
  5. Autis, Sindroma Asperger
  6. Tunaganda
  7. Kesulitan belajar atau lambat belajar ( hyperaktif, ADD/ADHD, Dysgraphia/tulis, dyslexia/baca, dysphasia/bicara, dyscalculia/hitung, dyspraxia/motorik).
  8. Gifted : potensi kecerdasan istimewa (IQ= very superior) dan Talented : potensi bakat istimewa (multiple intelegences : language, logoci-mathematic, visuo-spatial, bodily-kinesthetic musical, interpersonal, natural, intrapersonal, spiritual) dan indigo.

Tingkatan-tingkatan dalam pendidikan inklusi

 

Tingkatan dalam pendidikan inklusi dapat dibedakan berdasarkan tingkat kelainan peserta didiknya. Hal ini terjadi karena tidak semua sekolah inklusi dapat menerima peserta didik berkebutuhan khusus sepenuh waktu di kelas regular.

Tingkat kelainan peserta didik berkebutuhan khusus adalah :

  1. Mild disabilities (tingkat kelainan yang ringan dan masih bisa melakukan kegiatan dengan anak-anak seusianya).
  2. Moderate disabilities (tingkat kelainan sedang, masih bisa melakukan kegiatan dengan bantuan).
  3. Severe dan Profound disabilities (tingkat kelainan berat yang memerlukan pendampingan dan bantuan).
  4. Most-severe disabilities (tingkat kelainan sangat berat yang memerlukan bantuan dan perawatan terus menerus).

Faktor-Faktor yang Berperan dalam Pendidikan Inklusi

Faktor keluarga

Keluarga : orangtua peserta didik berkebutuhan khusus memegang peranan penting dalam menentukan pendidikan anaknya. Keterlibatan orangtua merupakan masukan yang penting dalam pendidikan inklusif. (Johnsen dan Skjorten, 2004)

Pandangan orangtua peserta didik berkebutuhan khusus yang menentukan apakah anaknya akan memperoleh pendidikan secara mainstream atau ikut serta dalam pendidikan inklusif.

Faktor Peserta Didik

Peserta didik : peserta didik berkebutuhan khusus memiliki karakteristik kebutuhan khususnya masing – masing, aspek – aspek yang perlu dipersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan inklusif meliputi

  1. Komunikasi dan bahasa yang meliputi : kemapuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan dan kehendaknya pada orang lain, kemampuan untuk memahami orang lain serta kemampuan untuk dimengerti oleh orang lain (Mangunsong, 1998)
  2. Bantu diri adalah kemampuan untuk lebih mandiri dalam kegiatan sehari – hari seperti membersihkan diri, makan dan minum sendiri, dan sebagainya (Mangunsong, 1998)
  3. Mobilitas dan aksesibilitas adalah kemampuan untuk bergerak dimana kemampuan ini sangat tergantung pada kemampuan spasial (kemampuan untuk menjelajahi lingkungan). (Mangunsong, 1998)
  4. Ketrampilan sosial adalah kemampuan untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya seperti : orang tua, keluarga, guru, dan masyarakat (Mangunsong, 1998)

Faktor Sekolah

Sekolah : faktor – faktor yang perlu diperhatikan oleh sekolah untuk memastikan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama dengan anak lainnya adalah (Foreman, 1996) :

  1. Pengorganisasian kurikulum oleh sekolah
  2. Sifat dasar dari isi kurikulum
  3. Penilaian dan pelaporan perkembangan pesetra didik
  4. Keputusan terhadap alokasi sumber daya yang dibutuhkan

Dari penjelasan diatas, faktor-faktor yang berpengaruh pada sekolah adalah guru,kurikulum dan proses belajar mengajar.

Faktor Guru

Guru : Menurut Larrivee dalam Mastropieri dan Scruggs (2000), guru disekolah inklusi yang dapat membuat peserta didik berkebetuhan khusus memiliki prestasi akademik yang tinggi harus;

  1. Efisien dalam menggunakan waktu
  2. Memiliki hubungan yang baik dengan peserta didik
  3.  Memberikan sejumlah umpan balik yang positif
  4. Mempertahankan nilai keberhasilan yang tinggi
  5. Memberikan respon yang mendukung bagi peserta didik secara umum
  6. Memberikan respon yang mendukung juga bagi anak yang berkemampuan rendah (low-ability student).

Faktor Kurikulum

Kurikulum : menurut Hallahan dan Kauffman (2006), strategi pengajaran dan kurikulum yang ada perlu diperhatikan dalam membantu partisipasi peserta didik berkebutuhan khusus dalam lingkungan sekolah regular.

Faktor Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar : Menurut Larrivee dalam Mastropieri dan Scruggs, ( 2000 ).

Empat Kategori yang secara konsisten berkolerasi dengan keberhasilan peserta didik adalah ;

  1. Manajemen kelas dan disiplin yang meliputi peralihan yang efisien, sedikitnya respon negatif dan memaksimalkan tingkat keterlibatan.
  2. Umpan balik selama intruksi yang meliputi umpan balik positif dan menghindari kritik.
  3. Instruksi yang sesuai yang meliputi tingkat kesulitan tugas yang sesuai dan nilai yang tinggi untuk respon yang benar.
  4. Lingkungan yang mendukung meliputi intervensi yang mendukung,respon  terhadap masalah jarang menggunakan hukuman.

Keuntungan dari sekolah inklusi :

Penelitian tentang inklusi telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1980-an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusi berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya.

Dampak positif dari pendidikan inklusi diantaranya yaitu :

  • Memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun.
  • Memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak terutama bagi kesejahteraan anak.
  • Anak berkebutuhan khusus akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab pada semua lingkungan sosial, misalnya pada keluarga, pada kelompok teman sebaya, pada sekolah, pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya.
  • Tipe pendidikan ini dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak, baik anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.
  • Adanya sikap positif bagi siswa berkelainan yang berkembang dari komunikasi dan interaksi dari pertemanan dan kerja sebaya.
  • Siswa belajar untuk sensitif, memahami, menghargai, dan menumbuhkan rasa nyaman dengan perbedaan individual.
  • Anak berkelainan belajar keterampilan sosial dan menjadi siap untuk tinggal di masyarakat karena mereka dimasukkan dalam sekolah umum.
  • Anak terhindar dari dampak negatif dari sekolah segregasi, antara lain kecenderungan pendidikannya yang kurang berguna untuk kehidupan nyata, label “cacat” yang memberi stigma pada anak dari sekolah segregasi membuat anak merasa inferior, serta kecilnya kemungkinan untuk saling bekerjasama, dan menghargai perbedaan.
  • Mengajarkan nilai sosial berupa kesetaraan.
  • Biaya penyelenggaraan sekolah segregasi relatif lebih mahal dari pada sekolah umum. Lagipula, banyak anak berkelainan yang tidak mampu memperoleh pendidikan karena tidak tersedia sekolah khusus yang dekat, sehingga menjadikan pendidikan inklusi sebagai jawaban kontemporer bagi anak-anak berkelainan dan berkebutuhan khusus.

Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusi juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak.

Kekurangan dari sekolah inklusi :

  • Hambatan belajar dapat berasal dan kesulitan menentukan strategi belajar dan metoda belajar lainnya sebagai akibat dan faktor-faktor biologis, psikologis, lingkungan, atau gabungan dan beberapa faktor dalam hal pemusatan perhatian, pemecahan masalah, mengingat dan mengawasi proses belajar dan pemecahan masalah.
  • Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusi.
  • Terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi.
  • Sistem pendidikan inklusi belum benar – benar dipersiapkan dengan baik. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel).

Dengan demikian kondisi tersebut menambah beban tugas yang harus diemban para guru yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis di lapangan. Di satu sisi para guru harus berjuang keras memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya, sementara di sisi lain para guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang difabel. Alih – alih situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang inklusi, justru menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam lingkungan kelas reguler. Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam kelasnya ada siswa difabel.

KESIMPULAN

 

Meski sampai saat ini sekolah inklusi masih terus melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, namun dilihat dari sisi idealnya sekolah inklusi merupakan sekolah yang ideal baik bagi anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus. Lingkungan yang tercipta sangat mendukung terhadap anak dengan berkebutuhan khusus, mereka dapat belajar dari interaksi spontan teman-teman sebayanya terutama dari aspek social dan emosional. Sedangkan bagi anak yang tidak berkebutuhan khusus memberi peluang kepada mereka untuk belajar berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian. Disamping itu bukti lain yang ada mereka yang tanpa berkebutuhan khusus memiliki prestasi yag baik tanpa merasa terganggu sedikitpun.

Apabila pemerintah lebih memperhatikan dalam pelaksanakan program pendidikan inklusi, maka yang harus dilakukan adalah dengan menjalankan tahapan – tahapan pelaksanaan pendidikan inklusi secara konsisten mulai dari sosialisasi hingga evaluasi pelaksanaannya. Namun yang lebih penting dan secara langsung dapat dilakukan oleh para guru untuk mewujudkan pendidikan inklusi adalah dengan menciptakan suasana belajar yang saling mempertumbuhkan (cooperative learning).

Cooperative Learning akan mengajarkan para siswa untuk dapat saling memahami kekurangan masing – masing temannya dan peduli terhadap kelemahan yang dimiliki teman sekelasnya. Dengan demikian maka sistem belajar ini akan menggeser sistem belajar persaingan  yang selama ini diterapkan di dunia pendidikan kita.

Dalam waktu yang bersamaan competitive learning dapat menjadi solusi efektif bagi persoalan yang dihadapi oleh para guru dalam menjalankan pendidikan inklusi. Pada akhirnya suasana belajar cooperative ini diharapkan bukan hanya menciptakan kecerdasan otak secara individual, namun juga mengasah kecerdasan dan kepekaan sosial para siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sudinadji, MB. 2010. Sekolah Inklusi. Universitas Muhammadiyah Surakarta

http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan-inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus

http://www.bintangbangsaku.com/content/prinsip-prinsip-pembelajaran-di-sekolah-inklusi-tuna-laras

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: