TEORI PENCIPTAAN MANUSIA YANG MEMPERKUAT KEYAKINAN TERHADAP SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

TEORI PENCIPTAAN MANUSIA YANG MEMPERKUAT KEYAKINAN TERHADAP SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Banyaknya teori yang membahas mengenai penciptaan manusia dalam hal Ketuhanan,menimbulkan pertentangan di antara para ilmuan dan filsuf.Pertentangan ini terjadi karena para ilmuan dan filsuf berusaha mencari jawaban perihal penciptaan manusia menggunakan akal sehat,kecerdasan dan juga dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.Sehingga dengan itu,ilmuan dan filsuf dapat mengetahui mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan manusia yang merupakan bukti nyata dari keberadaan atau eksistensi Sang Pencipta yang menguasai jagat raya ini.

Pertentangan ini terjadi karena terdapat teori yang muncul dan berkembang pada abad ke 19 yang bersifat materialisme yang berusaha menjelaskan tentang alam semesta termasuk juga di dalamnya adalah manusia.Yang mana dalam teori tersebut memandang alam semesta termasuk manusia melalui faktor-faktor materi. Selain meletakkan dasar yang berpijak pada pandangan yang bersifat materialisme,teori ini juga menolak keberadaan Sang Pencipta (The Creator) dan menyatakan bahwa alam semesta beserta isinya itu tidak berawal dan juga tidak berakhir.Pandangan materialisme meyakini bahwa materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Pandangan ini terbentuk karena terpengaruh oleh kebudayaan Yunani Kuno yang berkembang pada abad ke 19. Dan pandangan materialisme ini juga yang menjadi dasar bagi kaum atheis.Dimana kaum atheis adalah kaum yang dikenal sebagai kaum yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

Tapi bagaimanapun juga kebenaran itu tetap akan datang bahwa dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tidak bisa terlepas dari keyakinan terhadap keberadaan Tuhan. Sehingga tidak bisa dibayangkan bila dalam mempelajari ilmu pengetahuan itu tanpa keimanan terhadap Tuhan, ibaratnya ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang. Max Planck juga mengatakan bahwa setiap orang yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata:”Berimanlah” karena Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuan. Selain meyakini keberadaan Tuhan,tetapi juga keseluruhan alam semesta beserta isinya bahwa itu semua adalah hasil ciptaan-Nya.

Dan pada umumnya orang yang mempelajari ilmu pengetahuan mempercayai keberadaan-Nya.Disamping mempelajari ilmu pengetahuan,tapi juga berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan Tuhan dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya.Termasuk juga di dalam ciptaan Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia dihormati karena manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang tertinggi di antara ciptaan Tuhan yang lainnya yang di dunia.Semua agama dalam berbagai versinya menganggap keseluhuran martabat manusia tertinggi terletak pada kaitannya dengan Yang Transenden.Negara dan berbagai institusi termasuk institusi pendidikan perlu dan harus menghormati keyakinan religius masyarakat Indonesia dan menjamin keyakinan masing-masing warga negara.Dalam masyarakat yang multikultural dan majemuk dalam hal agama, kerjasama dan persatuan untuk membangun bangsa dan negara yang merupakan keharusan yang mengalir dalam kaitannya dengan Sila Pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH

Makalah ini disusun berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Teori Penciptaan Manusia itu?
  2. Apakah pengertian nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa itu?
  3. Bagaimana pemahaman nilai-nilai Ketuhan Yang Maha Esa terhadap Teori Penciptaan Manusia?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    TEORI PENCIPTAAN MANUSIA
    1. 1.      MANUSIA MENURUT TEORI EVOLUSI

Orang yang mengemukakan teori evolusi adalah seorang naturalis amatir dari Inggris, Charles Robert Darwin.Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19.Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme berusaha menjelaskan alam semesta melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “teori evolusi” di pertengahan abad ke-19.

Teori evolusi menganggap bahwa manusia itu tak lebih dari keturunan yang berubah dari nenek moyang mamalia.Ada juga yang menganggap bahwa manusia dan kera merupakan keturunan yang dimodifikasi dari pendahulu primatanya.Dan pendapat yang lain mengatakan bahwa manusia itu pada mulanya bersifat sederhana,bersel tunggal dan hidup dari zat organik,jadi termasuk tumbuhan. Dari golongan tumbuhan ini sebagian berubah jadi hewan, dan selanjutnya berevolusi jadi makhluk beraneka warna.

Menurut Lamarck,evolusi akibat pewarisan sifat induknya kepada keturunannya dan menjadi lebih maju akibat adaptasi lingkungan.Tetapi Darwin menolak teori Lamarck dan mengajukan hukum seleksi alam,yaitu bahwa semua makhluk berjuang untuk hidup dan yang lestari atau bertahan adalah yang paling kuat. Darwin  menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya. (Asal usul “sifat-sifat yang menguntungkan” ini belum diketahui pada waktu itu.) Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini.

Dan sekarang ini,orang berpendapat tentang evolusi akibat mutasi,yaitu bahwa perubahan species agak melompat karena perubahan gen atau kromosom sel akibat dari sinar kosmik alam semesta.Mutasi ada 2 macam,yaitu: Mutasi maju (pindah jenis lebih baik) dan Mutasi mundur (pindah jenis lebih buruk atau punah).

  1. MANUSIA MENURUT AL QUR’AN

Kisah penciptaan manusia menurut Al Quran berawal dari penciptaan Adam sebagai manusia pertama di bumi. Yang kemudian Allah menciptakan pasangan daripadanya sebagai pendamping Adam dan menciptakan perempuan dan laki-laki sebagai penerus mereka.”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ : 1)

Manusia menapaki kehidupan melalui pertemuan dua zat terpisah didalam tubuh lelaki dan perempuan,yang diciptakan saling terpisah namun sangat selaras. Penciptaan kedua zat ini, pertemuan antara keduanya, dan perubahannya menjadi manusia sungguhlah suatu keajaiban.”Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan), dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya, dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS. Fathir:11).

Sperma merupakan tahap awal dalam penciptaan manusia.Kemudian sperma menempuh perjalanan di dalam rahim ibu hingga mencapai sel telur. Sel telur dan sperma bertemu di dalam tuba falopii. Saat sperma bersatu dengan sel telur,inti bayi yang akan dilahirkan mulai terbentuk yang biasa disebut dengan zigot. Zigot ini melekat pada rahim. Melalui rahim ini, zigot mendapatkan gizi yang penting bagi pertumbuhan dari tubuh bayi. Selain itu, rahim juga berfungsi untuk melindungi zigot dari gangguan atau ancaman dari luar. Tapi sungguh menarik, Allah selalu menyebut zigot yang sedang tumbuh dalan rahim ibu sebagai “segumpal darah”.Sementara itu, zigot yang awalnya hanya “segumpal darah”,mulai berubah seiring waktu. Pada akhir proses,setelah sang bayi tumbuh sempurna di dalam rahim ibu, lalu lahir ke dunia.

Inilah kisah awal mula kehidupan manusia, yang terbenruk hanya dari “setetes air mani”, berubah menjadi manusia yang memiliki jutaan keseimbangan yang rumit. Meskipun tidak kita sadari,di dalam tubuh manusia terdapat sistem yang teramat kompleks dan rumit, yang membantu manusia bertahan hidup. Semua sistem ini dirancang dan dioperasikan hanya oleh Sang Pemilik dan Pencipta manusia, yakni Allah, untuk menyadarkan manusia bahwa “manusia itu diciptakan”. Sangat tidak logis bila manusia berfikir bahwa semua fungsi kompleks ini terjadi “atas kemauan sendiri”. Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk menciptakan dirinya sendiri,menciptakan orang lain, atau menciptakan benda lain. Allah-lah yang menciptakan semua kejadian yang telah dijelaskan tadi pada setiap saat kejadiannya, setiap detiknya, dan setiap tahapannya.

  1. B.     PENGERTIAN NILAI-NILAI KETUHANAN YANG MAHA ESA
    1. 1.      Pengertian Nilai

Pendidikan Pancasila adalah pendidikan nilai-nilai yang bertujuan membentuk sikap positif manusia sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna , indah, memperkaya batin, dan menyadarkan manusia akan harkat dan martabanya.Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia.Nilai sebagai suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah satu wujud kebudayaan, disamping sistem sosial dan karya.

Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila sesuatu itu : berguna, berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik (nilai moral atau etis), religious (nilai agama).

Prof.Dr.Notonegoro, membagi nilai menjadi 3, yaitu:

  1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.
  2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas.
  3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani

manusia.

Nilai kerohanian ini dapat dibedakan atas 4 macam, yaitu:

  1. Nilai kebenaran/kenyataan,yang bersumber pada unsure akal manusia (ratio, budi, cipta)
  2. Nilai keindahan yang bersumber pada unsure rasa manusia (gevoels, dan aethetis)
  3. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak/kemauan manusia (will, karsa, ethic)
  4. Nilai religious yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tertinggi dan mutlak.Nilai religious ini bersumber pada kepercayaan/keyakinan manusia.

Jadi yang mempunyai nilai itu tidak hanya sesuatu yang berwujud benda material saja, tetapi juga sesuatu yang tidak berwujud benda material.Bahkan sesuatu yang bukan benda material itu dapat menjadi nilai yang sangat tinggi dan mutlak bagi manusia, misalnya nilai rohani.

  1. 2.      Pengertian Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.Sila ini mengandung dua pengertian pokok yaitu pengertian tentang Ketuhanan dan tentang Yang Maha Esa.

                       

Ketuhanan

Ketuhanan berasal dari kata Tuhan yakni Allah, zat Yang Maha Esa, Pencipta segala kejadian termasuk Pencipta Semua Makhluk. Oleh karena itu, Tuhan sering disebut juga Sebab Yang Pertama yang tidak disebabkan lagi.Alam beserta kekayaannya seperti sumber-sumber minyak bumi, batu bara, besi, air, udara dan lain-lainnya merupakan ciptaan-Nya. Demikian pula makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan juga manusia, semuanya berasal dari Tuhan yang nantinya akan kembali kepada Tuhan.

Yang Maha Esa

Yang Maha Esa berarti Tang Maha Satu atau Yang Maha Tunggal dan tidak ada yang mempersekutukannya. Dia Esa dalam zat-Nya, Esa dalam sifat-Nya dan Esa dalam perbuatan-Nya.Oleh karena kekhususan-Nya itu, maka tidak ada yang menyamai-Nya.Dia Maha Sempurna.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta Alam Semesta beserta isinya, baik benda mati maupun makhluk hidup.

Kepercayaan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa itu bersifat aktif. Artinya manusia harus selalu berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya menurut ajaran agama dan kepercayaan manusia masing-masing.

Dalam kehidupan kenegaraan, arti sila pertama yang demikian itu tergambar dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ketiga yang berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Selanjutnya hal itu dijabarkan dalam pasal 29 batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:

1)      Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa,

2)      Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

  1. C.    PENTINGNYA PEMAHAMAN NILAI-NILAI KETUHANAN YANG                   MAHA ESA TERHADAP TEORI PENCIPTAAN MANUSIA

Pemahaman tentang penciptaan manusia adalah dengan pemahaman tanda-tanda untuk meraih pengetahuan tentang Tuhan. Dengan memahami nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa terhadap teori penciptaan manusia, maka akan membantu kesadaran manusia tentang ke-Tuhanan.Karena dahulu terdapat pengaruh ilmu pengetahuan bagi tumbuhnya pandangan dunia dan sikap hidup tertentu yang materialistis mengenai alam semesta dan gejala-gejalanya, segala sesuatunya didasarkan, diasal mulakan pada benda mati. Selain itu dengan mengingat ilmu pengetahuan yang dulu, bahwa dahulu roh begitu saja dinyatakan tidak ada, agama dan Ketuhanan begitu saja dapat ditetapkan tidak merupakan kenyataan.

Namun demikian perubahan sifat sekarang yang tidak lagi materialistis itu, belum lagi diikuti oleh penggantian sifat pandangan dunia dan sikap hidup manusia di dunia Barat.Ketuhanan Yang Maha Esa itu, mengetahui dan sadar akan hal pemahaman dalam hasil ilmu pengetahuan Yang Maha penting itu. Karena pandangan dunia dan sikap hidup bangsa, yang terkandung dalam dasar filsafat Negara, yang berlandaskan pada adanya Tuhan, tidak lagi mengenal materi yang mati sebagai sendi mutlak alam semesta beserta isinya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Teori penciptaan manusia sangat berperan penting dalam menguatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena sebelumnya terdapat pandangan materialisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu dipandang dari segi materi. Bahkan Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Darwin menyatakan bahwa manusia itu berasal dari keturunana nenek moyang mamalia. Dan ada juga anggapan yang menyatakan bahwa manusia dan kera itu merupakan hasil modifikasi dari pendahulu primatanya. Namun dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia itu sesungguhnya berasal dari saripati cairan hina, yaitu air mani. Kemudian dari saripati hina itu segera berkembang dengan melakukan pembelahan sel, dan akhirnya menjadi “segumpal daging”. Dan pada akhir proses, setelah bayi tumbuh sempurna di dalam rahim ibu, lalu lahir ke dunia.Sehingga penciptaan manusia menurut teori Evolusi itu sangat bertentangan dengan sila pertama Pancasila, yang tidak mengakui akan kebesaran penciptaan Tuhan. Rancangan yang tersembunyi tentang manusia merupakan bukti yang meyakinkan akan keberadaan Sang Pencipta (Tuhan) yang menguasai jagat raya, yang memiiki kekuatan dan kebijakan tidak terbatas, yaitu Sang Pencipta yang sama yang telah menciptakan alam semesta dari kehampaan. Dengan adanya penciptaan manusia ini menunjukkan bahwa Tuhan itu memang ada. Oleh karena itu sudah sepantasnya manusia itu meyakini,mempercayai dan mengimani Tuhan Yang Maha Esa.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian bahwa manusia itu percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta Alam Semesta beserta isinya, baik benda mati maupun benda hidup. Artinya manusia harus selalu menjalankan segala perintah-Nya daan menjauhi segala larangan-Nya menurut ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Oleh karena itu untuk menyikapi adanya teori-teori yang muncul mengenai penciptaan manusia, kita sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai Pancasila sebagai dasar filsafat Negara dengan adanya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak terjerumus pada paham atheis tang tidak mengakui adanya Tuhan. Dan untuk itu, kita harus mengetahui dan sadar akan hal pemahaman ilmu penngetahuan yang penting. Selain itu kita juga perlu memahami tentang nilai-nilai Ketuhanan Yanng Maha Esa, sehingga kita yakin dan percaya bahwa alam semesta termasuk manusia itu tercipta tidak karena kebetulan semata, tetapi diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

DAFTAR PUSTAKA

Bucaille,Dr Mauruce.1995.Asal Usul Manusia Menurut Qur’an dan Bible.Bandung:Mizan.

Kansil,Prof.Drs.C.S.T,SH.1971.Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Jakarta:PT Pradnya Paramita.

Salim,Dr Burhanudin.1988.Filsafat Manusia Antropologi Metafisika.Jakarta:PT Bina Akasara.

Syarbaini,Drs.Syahrial.2002.Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi.Jakarta:Ghalia Indonesia.

http://erana_chan.blogs.friendster.com/my_blog/2006/08/obrolan_di_angk.html

http://www.harunyahya.com/indo/buku/keruntuhan003.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: