STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SD PUNTUKDORO 2 PLAOSAN MAGETAN JAWA TIMUR TAHUN 2010

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Tidak ada batas tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikatakan pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium. Pubertas berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur (Sastrawinata dalam Wiknjosastro, 2007). Perubahan fisik mencakup perkembangan karakteristik seks sekunder, lonjakan pertumbuhan masa remaja, dan perubahan mencolok pada tinggi badan, keadaan psikologis dan kesuburan, semua ukuran otot tulang berubah dan komposisi tubuh juga berubah. Perubahan paling dini dapat diukur pada anak perempuan dari usia 6 tahun. Karakteristik seks sekunder mulai tampak seiring dengan peningkatan sekresi estrogen (dari ovarium) dan androgen (dari ovarium dan kelenjar adrenal). Perubahan tampak di payudara, genitalia, rambut pubis dan suara (Coad dan Dunstall, 2006).

Menstruasi pertama atau menarche adalah hal yang wajar yang pasti dialami oleh setiap wanita normal. Berbagai perubahan selama pubertas bersamaan dengan terjadinya menarche meliputi thelarche (perkembangan payudara), adrenarche (pubarche atau perkembangan rambut aksila dan pubis), pertumbuhan tinggi badan lebih cepat, dan perubahan psikis (Proverawati dan Misaroh, 2009). Ejakulasi pertama anak laki-laki biasanya terjadi sekitar 2 tahun setelah dimulainya percepatan pertumbuhan. Cairan seminal pertama tidak mengandung sperma, jumlah sperma dan fertilitas mereka meningkat secara bertahap (Atkinson dan Smith dan Bem, 2004).

Awal pubertas jelas dipengaruhi oleh bangsa, iklim, gizi dan kebudayaan. Pada abad ini secara umum ada pergeseran permulaan pubertas kearah umur yang lebih muda yang diterangkan dengan meningkatnya kesehatan umum dan gizi (Sastrawinata dalam Wiknjosastro, 2007). Cepat atau lambatnya kematangan seksual (menstruasi atau kematangan fisik) ini kecuali dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan milieu/lingkungan anak. Badan yang lemah atau penyakit yang diderita seorang anak gadis, umpamanya bisa memperlambat tibanya menstruasi. Selanjutnya, rangsangan-rangsangan kuat dari luar, umpamanya saja berupa film-film seks (blue film), buku bacaan atau majalah-majalah bergambar seks godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan seksual/coitus, semua itu tidak hanya mengakibatkan memuncaknya atau panasnya reaksi-reaksi seksual saja, akan tetapi juga mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak. Maka pengaruh kultur dan peradaban itu tampaknya ambivalen sifatnya, artinya : kultur dan peradaban dapat memperlambat atau mempercepat tempo kematangan seksual anak. Jadi juga memperlambat atau mempercepat awal dari menstruasi anak gadis (Suryani dan Widyasih, 2008). Usia menarche sangat bervariasi diberbagai negara, hal ini dipengaruhi oleh sistim susunan saraf pusat, sistim indra, sistim hormonal dan nutrisi (Manuaba, 2003). Pada umumnya menarche terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun (Proverawati dan Misaroh, 2009).

Menarche adalah pembentukan atau permulaan fungsi menstruasi (Dorland, 1996). Ovarium mulai berfungsi dibawah pengaruh hormon gonadotropin dari hipofisis dan hormon ini dikeluarkan atas pengaruh releasing faktor dari hipotalamus. Dalam ovarium folikel mulai tumbuh walaupun folikel-folikel itu tidak sampai menjadi matang karena sebelumnya mengalami atresia, namun folikel-folikel tersebut sudah sanggup mengeluarkan estrogen. Sastrawinata dalam Wiknjosastro (2007), mengemukakan bahwa pada saat yang kira-kira bersamaan korteks kelenjar suprarenal mulai membentuk androgen dan hormon ini memegang peranan dalam pertumbuhan badan.

Menarche dapat menimbulkan reaksi positif maupun negatif bagi remaja perempuan. Apabila mereka sudah dipersiapkan dan mendapat informasi tentang akan datangnya menstruasi maka mereka tidak akan mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya, tetapi bila mereka kurang mendapatkan informasi maka akan merasakan pengalaman yang negatif (Soetjiningsih, 2004). Pengamatan secara psikoanalitis, bahwa ada reaksi-reaksi psikis tertentu pada saat haid pertama lalu timbul proses yang disebut oleh dr. Helena Deutsch sebagai “kompleks Kastrasi” atau trauma genitalia. Pada beberapa peristiwa komplek kastrasi atau trauma genitalia itu muncul macam-macam gambaran fantasi yang aneh-aneh dibarengi kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang tidak riil, disertai perasaan bersalah, yang semuanya dikaitkan dengan masalah perdarahan pada organ kelamin dan proses haidnya (Suryani dan Widyasih, 2008).

Hasil penelitian Arintha Pratamasari pada tanggal 28 Mei 2009 bersifat analitik untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri usia pubertas menghadapi menarche di SMP N 4 Sleman Yogyakarta menunjukkan hasil bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan remaja usia pubertas dengan kesiapan dalam menghadapi menarche (Pratamasari, 2009). Pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting untuk menentukan sikap yang utuh (Notoatmodjo, 2003). Fase tibanya haid ini merupakan satu periode dimana benar-benar telah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaannya. Namun semakin muda usia si gadis, dan semakin belum siap menerima peristiwa haid, akan semakin terasa “kejam mengancam” pengalaman menstruasi tersebut (Suryani dan Widyasih, 2008).

Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa.Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasanIndonesia timur (Wikipedia, 2010). Salah satu Perguruan Tinggi Negeri Surabaya melakukan penelitian di Jawa Timur terkait dengan usia pubertas yang hasilnya masa pubertas pada perempuan dimulai usia 12,5 tahun dengan puncak pubertas pada usia 15 tahun. Sedangkan masa pubertas laki-laki lebih lambat, yaitu dimulai pada usia 13 tahun dengan puncak pubertas 16 tahun (Rahmawati, 2010). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena pubertas kearah umur yang semakin muda di bandingkan teori yang ada menyatakan pubertas dimulai usia sekitar 14 tahun dan berakhir usia sekitar 17 tahun.

Kecepatan informasi untuk menjangkau penerimaan informasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern dikotametropolitan. Tidak dapat dipungkiri mediamassamemberi pengaruh melalui pesan-pesan yang disampaikannya kepada remaja (Crescen, 2008). Dimana Jawa Timur sebagaikotametropolis mempunyai salah satu wilayah yaitu Kecamatan Plaosan yang ada di Kabupaten Magetan (Wikipedia, 2009). Studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Dungan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur pada tanggal 25 Februari 2010 tentang gambaran anak pada awal pubertas, didapatkan fenomena seorang anak SD kelas 6 yang sudah hamil dengan pacarnya sendiri. Kemudian dilakukan studi pendahuluan pada bulan Januari 2010 tentang anak SD yang sudah menarche di SD Puntukdoro 2, merupakan salah satu SD di wilayah Plaosan. Didapatkan informasi dari kepala sekolah SD Puntukdoro 2, siswi kelas 5 dan kelas 6 sudah ada yang menarche. Desa Puntukdoro dan Desa Dungan merupakan desa yang berada di Kecamatan Plaosan, tetapi Desa Puntukdoro lokasinya lebih dekat dengan Kabupaten Magetan sehingga lebih mudah untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan kematangan seksual seperti : kemudahan mendapatkan majalah-majalah bergambar seks, film-film porno dan kemudahan mengakses internet.

Dari uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Deskriptif Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche Di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan Jawa Timur Tahun 2010?”

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, perumusan masalah yang di ambil adalah ”Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang menarche di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tahun 2010? ”

 

  1. TUJUAN PENELITIAN
  1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang menarche di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tahun 2010.

  1. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswi SD kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tentang pengertian menarche.
  2. Mengetahui tingkat pengetahuan siswi SD kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tentang sistem hormonal menjelang menarche.
  3. Mengetahui tingkat pengetahuan siswi kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tentang faktor yang mempengaruhi menarche.
  4. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswi kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tentang gejala-gejala yang menyertai menarche.

 

  1. RUANG LINGKUP
  1. Ruang Lingkup Keilmuan

Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini termasuk bidang ilmu kebidanan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

  1. Ruang Lingkup Sasaran

Ruang lingkup sasaran yaitu siswi SD kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plosan-Magetan.

  1. Ruang Lingkup Tempat

Ruang lingkup tempat dalam penelitian ini dilaksanakan di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan Jawa Timur.

  1. Ruang Lingkup Waktu

Ruang lingkup waktu penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2009 – Juli 2010.

 

  1. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan menfaat sebagai berikut:

  1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini sebagai sarana untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang telah diberikan dan diterima selama proses pendidikan di akademik dalam rangka pengembangan kemampuan diri dan sebagai syarat dalam menyelesaikan studi di Program Studi DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

  1. Bagi Institusi

Hasil penelitian ini dapat menambah bahan pustaka di Program Studi DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang dan sebagai tolok ukur untuk menilai kemampuan mahasiswi dalam melakukan penelitian.

  1. Bagi Perkembangan Pengetahuan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber masukan untuk penelitian selanjutnya tentang kesehatan reproduksi remaja dalam lingkup promosi kesehatan masyarakat.

 

  1. SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun atas 5 bab yang masing-masing bab terbagi beberapa sub bab, dimaksudkan untuk memudahkan pembaca memahami karya tulis ini. Adapun penyusunannya sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup penelitian, manfaat penelitian, sistematika penelitian dan keaslian penelitian.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Berisi : tinjauan teori yang terdiri dari konsep pengetahuan, remaja, menarche dan kerangka teori.

BAB III : METODE PENELITIAN

Berisi : tata cara pengumpulan dan analisa data serta pelaksanaan penelitian yang meliputi kerangka konsep, metode, jenis, dan tahap – tahap penelitian, definisi operasional dan skala pengukuran, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, pengolahan data, analisis data, dan jadwal penelitian.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi : hasil penelitian dan pembahasan.

BAB V : PENUTUP

Berisi : kesimpulan dan saran.

 

  1. KEASLIAN PENELITIAN

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Peneliti

Judul

Sampel

   Jenis          Penelitian

Hasil    Penelitian

Arintha Pratamasari

(tahun 2009)

Hubungan Pengetahuan tentang Mestruasi dengan Kesiapan Remaja Putri Usia Pubertas Menghadapi Menarche Siswi SMP N 4 Sleman Yogyakarta Analitik dengan metode cross sectional

 

Ada hubungan bermakna antara pengetahuan remaja usia pubertas dengan kesiapan dalam menghadapi menarche
Martantia Kusuma Wardani

(tahun 2010)

Studi Deskriptif Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche Siswi SD Puntukdoro 2 Plaosan Magetan Deskriptif dengan metode cross sectional Tingkat pengetahuan strata tahu tentang menarche sebanyak 3,6%

 

 

 

 

      BAB II

TINJAUAN TEORI

 

  1. A.   PENGETAHUAN
  2. 1.    Pengertian

Pengalaman-pengalaman yang disusun secara sistematik menjelma menjadi pengetahuan (Damin, 2004). Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan ”What” (Notoatmodjo, 2005). Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

  1. 2.    Manfaat

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).

  1. 3.    Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).  Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan menurut Notoatmodjo (2003), yaitu :

10

 

 

  1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan pengertian menarche.

  1. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Contoh : dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi menarche.

  1. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya remaja putri yang sudah menarche lebih berhati-hati dalam pergaulannya.

  1. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi, dan masih  dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. Contoh : bisa mengelompokkan pertumbuhan fisik remaja.

  1. Sintesis (synthesis)

Meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. Misanya dapat meringkas teori tentang menarche.

  1. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Contoh : dapat menilai kejadian menarche pada remaja putri.

  1. 4.    Sumber-Sumber Pengetahuan

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari berbagai sumber misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya (Notoatmojo, 2003).

  1. 5.    Pengukuran Pengetahuan.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang inggin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoatmojo, 2003).

 

  1. B.   REMAJA
    1. 1.    Pengertian

Menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1979 mengenai Kesejahteraan Anak, remaja adalah individu yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah (Proverawati dan Misaroh, 2009).

Masa remaja atau adolecense diartikan sebagai perubahan emosi dan perubahan sosial pada masa remaja. Masa remaja biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah masa pubertas, menggambarkan dampak perubahan fisik, dan pengalaman emosioal mendalam. Perempuan dan laki-laki menjadi matang, tanggung jawab mereka meningkat, dan harapan tentang dirinya berkembang lebih besar baik itu diukur dari dirinya maupun dari orang lain. Pada saat yang sama, perubahan sosial memainkan peran utama dalam masa remaja, sebagaimana aktivitas laki-laki dan perempuan menjadi lebih bervariasi dan individual (Masland dan Estridge, 2006).

Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama (Hurlock, 2008).

  1. 2.    Fase Masa Remaja

Menurut Kartini (1995) dalam Suryani dan Widyasih (2008), masa remaja dibagi dalam tiga fase, yaitu :

  1. Pra Pubertas (sekitar 10 tahun sampai 12 Tahun)

Pada periode ini pertumbuhan badan yang pesat dan perkembangan intelektual yang intensif, sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar. Selanjutnya perkembangan intelektual ini membangun macam-macam fungsi psikis, rasa ingin tahu rokhaniah dan dorongan ilmu pengetahuan serta pengalaman. Periode ini juga bercirikan : pemogokan, tidak patuh, keras kepala, suka memprotes, melancarkan banyak kritik, sombong rasa sudah ”dewasa” dan sudah ”besar”, acuh tak acuh, sembrono. Juga timbul dorongan yang sangat kuat untuk menuntut pengakuan dirinya, disertai emosi yang meluap-luap, amarah atau agresi yang kuat, sentimen-sentimen yang intens kuat, kebingungan, duka hati, suka melanggar dan menentang peraturan-peraturan pedagogis, disiplin dan ketertiban di rumah maupun di sekolah.

  1. Masa Pubertas

Masa pubertas sebenarnya merupakan suatu masa yang segera akan dilanjutkan oleh masa adolesensi yang disebut pula masa puber lanjut. Masa pubertas tidak dapat dipastikan kapan dimulainya dan kapan berakhir. Beberapa sarjana memperkirakan dimulai pada usia sekitar 14 tahun dan berakhir pada sekitar 17 tahun. Proses organis yang paling penting pada masa ini adalah kematangan seksual, kematangan seksual itu sekalipun bersifat biologis namun menentukan sekali sikap, yaitu faktor psikis anak terhadap diri sendiri dan konstitusi tubuhnya. Anak mulai menarik minat besar terhadap dirinya, misalnya dengan bersolek. Hal ini dilakukan untuk memupuk harga diri dan eksistensi dirinya selaku wanita.

  1. Adolesensi (sekitar 17 tahun sampai 19/21 tahun)

Pada masa adolesensi anak mulai menemukan nilai-nilai hidup baru, sehingga makin jelas pemahaman tentang keadaan  dirinya, dan ia mampu mengambil sintesa antara dunia luar dan dunia internal. Secara obyektif dan aktif ia melibatkan dirinya dengan dunia luar, sambil mencoba ”mendidik” dirinya sendiri. Pada usia ini sangat dibutuhkan oleh anak ialah adanya pendidikan dari orang tua yang berkepribadian yang sederhana serta jujur, yang tidak terlampau banyak menuntut kepada anak-didiknya, dan membiarkan anak tumbuh serta berkembang sesuai dengan irama perkembangan dan kodratnya sendiri. Yang penting saat ini ialah : membiarkan anak gadis menghayati pengalaman-pengalaman itu sendiri sehingga anak mampu menemukan arti dan nilai-nilai tertentu untuk menetapkan sikap dan tujuan hidup sendiri.

  1. 3.    Ciri-Ciri Masa Remaja

Menurut Hurlock (2008), ciri masa remaja dibagi dalam :

  1. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting

Tanner mengatakan bahwa ”bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian menyangkut   pertumbuhan dan perkembangan, tak dapat disangkal selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembangan berlangsung semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang memperhatikan perkembangan atau kurangnya perkembangan dengan kagum, senang atau takut. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental, terutama pada awal remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.

  1. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

Bila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus ”Meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan” dan juga harus mempelajari pada perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan. Namun perlu disadari bahwa apa yang telah terjadi akan meninggalkan bekasnya dan akan mempengaruhi pola perilaku dan sikap yang baru. Seperti dijelaskan oleh Osterrieth, ”Struktur psikis anak remaja berasal dari masa kanak-kanak, dan banyak ciri yang umumnya dianggap sebagai ciri khas masa remaja sudah ada pada akhir masa kanak-kanak.”

  1. Masa Remaja sebagai Periode Perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku. Selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga. Ada empat perubahan yang sama dan hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat selama awal masa remaja. Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja muda, masalah baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapai sebelumnya. Remaja akan merasa ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikanya menurut kepuasannya. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Keempat, sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut tanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.

  1. Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah

Masalah pada masa remaja menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, para remaja merasa dirinya mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.

 

 

  1. Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas

Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Seperti yang dijelaskan oleh Erikson ”Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang dewasa?”

  1. Masa Remaja sebagai Masa yang tidak Realistik

Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya pada dirinya sendiri tapi bagi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.

  1. Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa

Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu,  remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

  1. Perubahan Fisik pada Masa Remaja

Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa puber berakhir, dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja. Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal. Hal ini tidak mudah diamati dan diketahui sebagaimana halnya pertumbuhan tinggi dan berat tubuh atau seperti perkembangan ciri-ciri seks sekunder (Hurlock, 2008). Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas. Aktivitas kelenjar pituatri pada saat ini berakibat pada sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan menghasilkan dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati fungsi optimum. Dorongan pertumbuhan itu terjadi lebih awal pada pria daripada wanita, juga menandakan bahwa wanita lebih dulu matang secara seksual daripada pria (Proverawati dan Misaroh, 2009).

     Tabel 2.1 Perubahan Tubuh Selama Masa Remaja

Perubahan Eksternal Perubahan Internal
Tinggi

Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun sesudahnya.

 

Berat

Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi. Tetapi

berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.

 

Proporsi Tubuh

Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik. Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.

 

Organ Seks

Baik organ seks pria maupun wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.

 

Ciri-ciri Seks Sekunder

Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada akhir masa remaja.

Lanjutan Tabel 2.1

Sistem pencernaan

Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-otot di perut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.

 

 

Sistem Peredaran Darah

Jantung tumbuh pesat sealama masa remaja, pada usia tujuh belas atau delapan belas, beratnya dua kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.

 

Sitem Pernapasan

Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun. Anak laki-laki mencapai kematangan beberapa tahun kemudian.

 

Sistem Endrokin

Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidak seimbangan sementara seluruh sistem endrokin pada awal masa puber. Kelenjar seks berkembang sangat pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.

Jaringan Tubuh

Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas. Jaringan, selain tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.

 

(Harlock, 2008).

  1. Perubahan Sosial

Salah satu perkembangan remaja yang paling sulit adalah berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru (Hurlock, 2008).

 

  1. C.   MENARCHE
    1. 1.    Pengertian

Menarche adalah pembentukan atau permulaan fungsi menstruasi (Dorland, 1996).

Menarche menurut Hinchliff (1999), adalah periode menstruasi yang pertama terjadi pada masa pubertas seorang wanita. Sedangkan menurut Pearce (1999), menarche diartikan sebagai permulaan menstruasi pada seorang gadis pada masa pubertas, yang biasanya muncul pada usia 11 sampai 14 tahun (Proverawati dan Misaroh, 2009).

Sebagai puncak kedewasaan, wanita mulai mengalami perdarahan rahim pertama yang disebut menarche (Manuaba, 2003).

  1. 2.    Sistim Hormonal

Alat kandungan pada saat lahir belum berkembang. Setelah pancaindera menerima rangsangan yang diteruskan ke pusat dan diolah oleh hipotalamus, dilanjutkan ke hipofise melalui ”Sistim fortal” dikeluarkan hormon gonadotropik perangsang folikel dan luteinizing hormon untuk merangsang indung telur. Hormon perangsang folikel (FSH), merangsang folikel primordial yang dalam perjalanannya mengeluarkan hormon estrogen untuk pertumbuhan tanda seks sekunder (pertumbuhan rambut, pembesaran payudara, penimbunan jaringan lemak, sesuai dengan pola wanita yaitu di bokong dan payudara). Pertumbuhan rambut meliputi rambut kemaluan yang berbentuk segitiga serta rambut pada ketiak. Pada permulaan hanya estrogen saja yang dominan dan perdarahan (menstruasi) yang terjadi untuk pertama kali yang disebut menarche pada umur 12-13 tahun. Dominannya estrogen pada permulaan menstruasi sangat penting karena menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan tanda seks sekunder. Itu sebabnya pada permulaan perdarahan sering tidak teratur karena bentuk menstruasinya anovulatoir (tanpa pelepasan telur). Baru setelah umur wanita mencapai remaja sekitar 17-18 tahun, menstruasi teratur dengan interval 26-32 hari (Manuaba, 2003).

  1. 3.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menarche

Faktor-faktor yang mempengaruhi menarche menurut Proverawati dan Misaroh (2009), yaitu :

  1. Gizi

Dipengaruhi asupan gizi yang terkandung didalam makanan yang dikonsumsi dan tingkat kualitas gizi yang lebih baik pada masyarakat saat ini memicu menstruasi dini.

  1. Rangsangan Audio Visual

Faktor penyebab menstruasi dini datang dari rangsangan audio visual, baik berasal dari percakapan maupun tontonan dari film-film atau internet berlabel dewasa, vulgar, atau mengumbar sensualitas. Rangsangan dari telinga dan mata tersebut kemudian merangsang sistem reproduksi dan genital untuk lebih cepat matang. Bahkan rangsangan audio visual ini merupakan faktor penyebab utama menstruasi dini.

  1.  Ras

Berdasarkan penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak perempuan kulit hitam mengalami menstruasi lebih cepat 3 bulan daripada kulit putih dan rata-rata usia saat pertama kali mendapatkan menstruasi lebih cepat 9 bulan pada perempuan kulit hitam, serta 2 bulan pada kulit putih.

  1. Lingkungan sosial

Menurut penelitian menyatakan bahwa lingkungan sosial berpengaruh terhadap waktu terjadinya menarche. Salah satunya yaitu lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang harmonis dan adanya keluarga besar yang baik dapat memperlambat terjadinya menarche dini sedangkan anak yang tinggal ditengah-tengah keluarga yang tidak harmonis dapat mengakibatkan terjadinya menarche dini.

  1. 4.    Gejala yang Menyertai Menarche

Gejala yang menyertai menarche adalah rasa tidak nyaman disebabkan karena selama menstruasi volume air di dalam tubuh berkurang. Gejala lain yang dirasakan yaitu sakit kepala, pegal-pegal di kaki dan pinggang untuk beberapa jam, kram perut dan sakit perut. Sebelum periode ini terjadi biasanya ada beberapa perubahan emosional. Perasaan suntuk, marah, sedih yang disebabkan oleh adanya pelepasan beberapa hormon (Proverawati dan Misaroh, 2009).

Reaksi individual anak-anak gadis pada saat menstruasi pertama itu sangat berbeda-beda atau bervariasi, antara lain ialah : jika peristiwa itu menimbulkan kejutan atau shock (shock reaction) hebat dan dibarengi iritasi (rangsangan yang mengganggu sifatnya) yang meningkat, maka rasa-rasa negatif itu bisa berubah jadi perasaan-perasaan yang tidak enak, rasa mual dan ingin muntah-muntah, disertai rasa cepat jadi lelah, dan diliputi suasana depresi, sedih tertekan (Suryani dan Widyasih, 2008).

 

 

 

  1. D.   KERANGKA TEORI

Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian

Tingkat pengetahuan remaja Putri tentang Menarche

  1. Tahu.
  2. Memahami.
  3. Aplikasi.
  4. Analisis.
  5. Sintesis.
  6. Evaluasi.

                                      

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 : Kerangka Teori Tingkat Pengetahuan,

  Notoatmodjo (2003).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.   Kerangka Konsep

Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche

  1. Tahu

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

 

 

 

 

 

  1. B.   Metode, Jenis dan Tahap-tahap penelitian.

Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2005). Yang dimaksud dengan penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan proporsi atau rerata suatu variabel (Sopiyudin, 2006). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif menggambarkan tingkat pengetahuan remaja putri tentang menarche di SD Puntukdoro 2.

27

Jenis penelitian ini adalah cross-sectional yang pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali, pada satu saat. Studi seperti ini dapat semata-mata bersifat deskriptif, misalnya survei deskriptif atau penentuan nilai normal (Sastroasmoto dan Ismael, 2002).

Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah :

  1. Pengumpulan data
    1. Data Primer

Diambil dari jawaban responden.

  1. Data Sekunder

Data yang didapat dari data yang ada di SDN 2 Puntukdoro Plaosan-Magetan yang diambil dari buku tahunan siswa tahun 2009/2010.

  1. Prosedur Pengumpulan Data
    1. Peneliti meminta izin ke Kepala Program Studi DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang untuk melakukan penelitian.
    2. Peneliti meminta izin ke Kabupaten Magetan untuk melakukan penelitian di daerah Plaosan-Magetan Jawa Timur.
    3. Peneliti meminta izin kepada kepala sekolah SDN 2 Puntukdoro Plaosan-Magetan. Setelah mendapatkan izin dan sebelum membagikan kuesioner perlu dijelaskan terlebih dahulu tujuan dan manfaat penelitian.
    4. Setelah memahami tujuan dan manfaat penelitian, responden yang setuju dimintai menandatangani surat pernyataan bersedia menjadi responden penelitian.
    5. Peneliti membagikan lembar kuesioner dan mempersilahkan responden untuk mengisi lembar kuesioner sesuai petunjuk.
    6. Setelah lembar kuesioner diisi oleh responden kemudian dikumpulkan kembali pada peneliti kemudian di cek kelengkapannya, jika belum lengkap maka saat itu juga diminta untuk melengkapi data dan hasil pengisiannya diteliti oleh peneliti.

 

  1. C.   Definisi Operasional dan Skala Pengukuran.

Semua konsep yang ada dalam penelitian harus dibuat batasan dalam istilah yang operasional. Maksudnya agar tidak ada makna ganda dari istilah yang digunakan dalam penelitian tersebut. Oleh karena itu maka semua konsep dan variabel harus didefinisikan dengan jelas sehingga kemungkinan terjadinya kerancuan dalam pengukuran, analisis, serta simpulan dapat dihindarkan (Sastroasmoro dan Ismael, 2002). Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati/diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau ”definisi operasional”. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Notoatmodjo, 2005).

Variabel adalah kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya (Sugiyono, 2007). Variabel dari penelitian ini adalah pengetahuan. Definisi operasional dari pengetahuan adalah pengetahuan tentang menarche, yaitu informasi berbagai aspek yang diketahui tentang menarche dari remaja siswi kelas 5 dan kelas 6 SDN Puntukdoro 2 yang meliputi : pengertian menarche, sistim hormonal, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya menarche dan gejala yang menyertai.

Skala pengukuran : Ordinal.

Cara pengukuran variabel ini dengan menyebarkan kuesioner dengan pertanyaan tertutup yang harus dijawab oleh responden yang berisi 12 pertanyaan terkait dengan menarche meliputi pengertian menarche, sistem hormonal, faktor-faktor yang mempengaruhi menarche, gejala-gejala yang menyertai menarche dengan menggunakan Skala Guttman dimana dalam skala ini merupakan skala yang bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas (Hidayat, 2007).

Data yang didapatkan pada penelitian ini adalah data ordinal yang terhitung prosentasenya dengan rumus :

P = F x 100

N

Keterangan :

P : Prosentase

F : Jumlah jawaban yang benar

N : Jumlah skor total

  1. Baik     : Jumlah responden dengan kategori baik  x 100%

Jumlah seluruh responden

  1. Cukup  : Jumlah responden dengan kategori cukup x 100%

Jumlah seluruh responden

  1. Kurang : Jumlah responden dengan kategori kurang x 100%

Jumlah seluruh responden

(Budiarto, 2001).

Data yang diprosentasekan kemudian dikategorikan kembali menurut tingkat pengetahuan (Nursalam, 2003).

  1. Pengetahuan baik         : 76-100% dari total skor
  2. Pengetahuan cukup     : 56-75% dari total skor
  3. Pengetahuan kurang    : 0-55% dari total skor.
  4. D.   Populasi dan Sampel Penelitian.
    1. Populasi

Suatu populasi menunjukkan pada sekelompok subyek yang menjadi obyek atau sasaran penelitian. Sasaran penelitian ini dapat dalam bentuk manusia maupun bukan manusia, seperti wilayah geografis, penyakit, penyebab penyakit, program-program kesehatan, gejala-gejala penyakit dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : subyek/obyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007).

Populasi dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu populasi target (target population) dan populasi survei/terjangkau (survey population). Populasi target adalah seluruh ”unit” populasi, sedangkan populasi survey/terjangkau adalah sub-unit dari populasi target (Damin, 2004).

Populasi target dalam penelitian ini adalah remaja usia pubertas. Populasi terjangkau dari penelitian ini yaitu siswi kelas 5 dan 6 di SDN 2 Puntukdoro Plaosan-Magetan tahun 2010. Kelas 5 berjumlah 15 siswi dan kelas 6 berjumlah 13 siswi jadi jumlah populasi adalah 28 siswi.

Kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil penelitian. Kriteria sampel dapat dibagi menjadi dua menurut Nursalam (2003), yaitu :

 

  1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti. Yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

1). Remaja putri kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan Magetan tahun 2010.

2). Siswi kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan Magetan yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.

  1.  Kriteria Ekslusi

Kriteria ekslusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab. Yang memenuhi kriteria ekslusi dalam penelitian ini yaitu :

1). Remaja putri kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan Magetan yang sedang sakit, absen dan tidak masuk.

2). Siswi kelas 5 dan kelas 6 di SD Puntukdoro 2 Plaosan Magetan yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.

  1. Sampel

Data yang diperoleh pada suatu penelitian merupakan hasil pengukuran yang diperoleh dari sampel suatu populasi (Pratikna, 2003). Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil (Sugiyono, 2007). Sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling jenuh sebanyak 28 orang.

 

  1. E.    Instrumen Penelitian.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang meliputi pertanyaan tentang pengertian menarche, sistim hormonal menjelang menarche, faktor-faktor yang mempengaruhi menarche dan gejala-gejala yang menyertai menarche.

Kuesioner diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana responden tinggal memberikan jawaban atau dengan memberi tanda-tanda tertentu (Notoatmodjo, 2005). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pernyataan yang merupakan pernyataan positif (favourable) dan pernyataan negatif (unfavourable). Untuk jawaban benar akan mendapat skor 1 dan jawaban yang salah mendapat skor 0 ini berlaku untuk pernyataan positif (favorable) dan untuk jawaban salah akan mendapat skor 1 dan jawaban benar mendapat skor 0 ini berlaku untuk pernyataan negatif (unfavorable). Data yang didapatkan pada penelitian ini adalah data ordinal yang terhitung prosentasenya dengan menggunakan rumus (Budiarto, 2002) :

Tabel 3.1 Distribusi Pernyataan dalam Kuesioner

Pernyataan Favorable Unfavorable Jumlah soal
Pengertian menarche

1

1

2

Sistem Hormonal

1

1

2

Faktor yang mempengaruhi menarche

2

2

4

Gejala yang menyertai menarche

3

1

4

Total soal

12

Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian perlu uji validitas dan reliabilitas. Respon yang digunakan untuk uji coba sebaiknya yang memiliki ciri-ciri responden dari tempat di mana penelitian tersebut harus dilaksanakan. Agar memperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal, maka sebaiknya jumlah responden untuk uji coba paling sedikit 20 orang (Notoatmodjo, 2005).

  1. Uji Validitas

Validitas adalah instrumen yang dipakai dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2007). Untuk mengetahui apakah kuesioner yang disusun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total kuesioner tersebut. Dalam penelitian ini teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi ”product moment” yang rumusnya sebagai berikut :

 

Keterangan :

N   = jumlah responden

X   = pertanyaan

Y   = skor total

XY = skor pertanyaan dikalikan skor total

Untuk mengetahui nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka perlu dilihat pada tabel nilai product moment yang disesuaikan dengan jumlah responden. Suatu instrumen dinyatakan valid apabila nilai korelasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner memenuhi taraf significant diatas standar yang telah ditentukan. (Notoatmodjo, 2005).

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas

Pertanyaan

Nilai r table

Nilai r hitung

Kategori

1

0,444

0,772

Valid

2

0,444

0,364

Tidak Valid

3

0,444

0,768

Valid

4

0,444

0,768

Valid

5

0,444

0,768

Valid

6

0,444

0,768

Valid

7

0,444

0,772

Valid

8

0,444

0,845

Valid

9

0,444

0,845

Valid

10

0,444

0,598

Valid

11

0,444

0,845

Valid

12

0,444

0,768

Valid

 

Dari tabel 3.2 didapatkan hasil bahwa pertanyaan no. 2 tidak valid, berdasarkan Notoatmodjo (2005) apabila instrumen tidak valid maka pertanyaan tersebut harus di ganti atau direvisi atau di ”drop” (dihilangkan). Dalam penelitian ini instrumen yang tidak valid di ”drop” (dihilangkan) karena sudah ada pertanyaan yang mewakili dari pertanyaan yang tidak valid.

  1. Uji Reliabilitas

Reliabilitas (keandalan) adalah adanya suatu kesamaan hasil apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang yang berbeda ataupun waktu yang berbeda (Nursalam, 2008). Pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen (Sugiyono, 2007). Dalam penelitian ini pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan teknik belah dua dari Kuder Richardson dengan rumus KR 20

 

 

Keterangan :

K = jumlah item dalam instrumen

= proporsi banyaknya subyek yang menjawab pada item 1

=1 -

= varians total

Skor yang digunakan dalam instrumen penelitian ini menghasilkan skor dikotomi (1 dan 0), kemudian reliabilitas instrumen akan dianalisis dengan rumus KR 20 dihitung harga  selanjutnya dicek apakah harga  tersebut diatas standar yang telah ditentukan untuk mencapai kuesioner yang reliabel (Sugiyono, 2007).

Hasil perhitungan dengan rumus ini kemudian dianalisis, bila hasilnya semakin mendekati angka 1 instrumen penelitian dikatakan reliable (Arikunto, 2002). Sedangkan hasil dari penelitian ini didapat hasil reliabilitasnya adalah 0.846 (hasil terlampir).

Uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan di SD Bulugunung 3 Plaosan-Magetan yang memiliki karakteristik yang sama dari tempat penelitian dilihat dari geografisnya yang terletak di wilayah pegunungan dengan responden siswi kelas 5 dan kelas 6 yang berjumlah 20 siswi.

 

 

  1. F.    Pengolahan Data

Menurut Notoatmodjo (2005), pengolahan data dapat dibagi dalam :

  1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan (Hidayat, 2007). Editing dilaksanakan dilapangan sehingga bila terjadi kesalahan atau kekurangan data bisa diperbaiki.

  1. Coding

Coding bertujuan untuk memberikan kode terhadap jawaban agar proses pengolahan lebih mudah dan cepat (Budiarto, 2002). Peneliti memberikan skor 1 untuk setiap jawaban yang benar dan nilai 0 untuk jawaban salah pada pernyataan positif (favorable) dan untuk jawaban salah akan mendapat skor 1 dan jawaban benar mendapat skor 0 ini berlaku untuk pernyataan negatif (unfavorable).

  1. Entri Data

Entri data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan tabel kontigensi (Hidayat, 2007). Dalam penelitian ini memasukkan data secara manual.

  1. Tabulating

Penyusunan data merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan dan dianalisis (Budiarto, 2002). Setelah kuesioner diedit dan diberi skor, lalu data ditabulasikan. Pada lajur baris diisi dengan pengetahuan, yaitu yang baik dan kurang. Sedangkan lajur kolom diisi dengan jumlah (n) dan prosentase.

 

  1. G.   Analisis Data.

Data yang telah terkumpul dianalisis dalam bentuk statistik deskriptif, statistik deskriptif adalah statistika yang membahas cara-cara meringkas, menyajikan, dan mendeskripsikan (menggambarkan) suatu data degan tujuan mudah dimengerti dan lebih mempunyai makna (Nursalam, 2003). Penelitian ini menggunakan analisis univariat yang dilakukan pada satu variabel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.   Gambaran Penelitian

Pengambilan data dilaksanakan selama 1 hari pada tanggal  24 Juli 2010 dengan responden yang jumlah 28 siswi. Pengambilan data dilakukan dengan cara kelas 5 dan kelas 6 dikumpulkan pada ruangan kelas 6 saat jam istirahat, agar tidak mengganggu proses belajar mengajar, hal ini sesuai dengan kebijakan dari kepala sekolah SD Puntukdoro 2 selaku pemberi izin dilaksanakannya penelitian ini di SD tersebut, dan memberi waktu pada peneliti untuk mengambil data pada saat jam istirahat.

SD Puntukdoro 2 yang merupakan lokasi penelitian yang terletak di Desa Puntukdoro Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan dengan batas wilayahnya :

Utara    : berbatasan dengan Kecamatan Panekan.

Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Poncol.

Barat    : berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.

Timur   : berbatasan dengan Kecamatan Sidorejo.

39

Sekolah ini pada tahun ajaran 2010/2011 memiliki 9 ruangan, 1 ruang guru dan kepala sekolah, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah) dan 6 ruang kelas yang terdiri dari kelas I berjumlah 32 siswa, kelas II berjumlah 37 siswa, kelas III berjumlah 33 siswa, kelas IV berjumlah 29 siswa, kelas V berjumlah 32 siswa dan kelas VI berjumlah 29 siswa jadi total siswa yang tercatat di SD Puntukdoro 2 bejumlah 192 siswa dengan status dari sekolah ini merupakan SD Negeri serta di SD Puntukdoro 2 tidak ada pelajaran tentang kesehatan reproduksi.

 

  1. B.   Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Puntukoro 2 Plaosan-Magetan terhadap 28 responden didapatkan hasil sebagai berikut :

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang pengertian menarche.

Tabel 4.1 Distribusi Jawaban Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Pengertian Menarche.

Pernyataan

Jawaban

Jumlah

Salah

Benar

N

%

n

%

n

%

Menarche adalah haid yang terjadi pertama kali.

8

28,6

20

71,4

28

100

Dari tabel 4.1 diketahui bahwa mayoritas responden yaitu 20 responden (71,4%) sudah menjawab benar dari pernyataan menarche adalah haid yang terjadi pertama kali.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Pengetahuan Reamaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Pengertian Menarche.

No

Kriteria

Frekuensi

Prosentase

1. Baik

20

71,4%

2. Cukup

0

0%

3. Kurang

8

28,6%

  Jumlah

28

100%

 

Dari tabel 4.2 diketahui bahwa dari 28 responden didapatkan 20 responden (71,4%) berpengetahuan baik sedangkan 8 responden (28,6%) berpengetahuan kurang.

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Sistem Hormonal.

Tabel 4.3 Distribusi Jawaban Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Sistem Hormonal.

Pernyataan

Jawaban

Jumlah

Salah

Benar

N

%

n

%

n

%

Pembesaran payudara itu pengaruh dari sering bermain kejar-kejaran dengan teman laki-laki.

8

28,6

20

71,4

28

100

Pertumbuhan rambut ketiak dan rambut kemaluan merupakan pengaruh dari hormon.

11

39,3

17

60,7

28

100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang tidak setuju dengan pernyataan pembesaran payudara itu pengaruh dari sering bermain kejar-kejaran dengan teman laki-laki yaitu 20 responden (71,4%). Sedangkan responden yang setuju dengan pernyataan pertumbuhan rambut ketiak dan rambut kemaluan merupakan pengaruh dari hormon yaitu sebanyak 17 responden (60,7%).

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Sistem Hormonal.

No

Kriteria

Frekuensi

Prosentase

1.

Baik

11

39,3%

2.

Cukup

15

53,6%

3.

Kurang

2

7,1%

Jumlah

28

100%

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosentase responden tentang sistem hormonal terbanyak adalah berpengetahuan cukup yaitu 15 responden (53,6%) dan 11 reponden (39,3%) berpengetahuan baik sedangkan 2 responden (7,1%) berpengetahuan kurang.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menarche.

Tabel 4.5 Distribusi Jawaban Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menarche.

Pernyataan

Jawaban

Jumlah

Salah

Benar

N

%

n

%

n

%

Gizi yang baik bisa mempercepat datangnya haid pertama kali.

9

32,1

19

67,9

28

100

Dengan melihat film porno dan majalah-majalah porno bisa merangsang keluarnya haid pertama.

15

53,6

13

46,4

28

100

Lingkungan dalam kehidupan sehari-hari tidak mempercepat haid.

19

67,9

9

32,1

28

100

Menstruasi pertama tidak tergantung ras/suku bangsa.

12

42,9

16

57,1

28

100

 

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa 19 responden (67,9%) menjawab benar dari pernyataan gizi yang baik bisa mempercepat datangnya haid pertama kali. Dan mayoritas responden menjawab salah dari pernyataan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari tidak mempercepat haid yaitu sebanyak 19 responden (67,9%).

 

 

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menarche

No

Kriteria

Frekuensi

Prosentase

1.

Baik

1

3,6%

2.

Cukup

4

14,3%

3.

Kurang

23

82,1%

Jumlah

28

100%

 

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa mayoritas responden berpengetahuan kurang sebanyak 23 responden (82,1%) dan 4 responden lainnya (14,3%) berpengetahuan cukup serta hanya ada 1 responden (3,6%) berpengetahuan baik.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Putukdoro 2 tentang Gejala-Gejala yang Menyertai Menarche

Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Gejala-Gejala yang Menyertai Menarche.

Pernyataan

Jawaban

Jumlah

Salah

Benar

n

%

N

%

n

%

Apabila haid datang akan terasa tidak nyaman.

7

25

21

75

28

100

Haid tidak mempengaruhi gejala pegal-pegal dipinggang untuk beberapa jam.

11

39,3

17

60,7

28

100

Perasaan marah muncul apabila datang haid.

19

67,9

9

32,1

28

100

Reaksi yang terjadi pada saat menstruasi pertama yaitu rasa mual dan ingin muntah-muntah.

9

32,1

19

67,9

28

100

Hasil yang di dapat menunjukkan bahwa dari pernyataan apabila haid datang akan terasa tidak nyaman sebanyak 21 responden (72%) menjawab benar. Dan dari pernyataan perasaan marah muncul apabila datang haid mayoritas menjawab salah yaitu sebanyak 19 responden (67,9%).

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Gejala-Gejala yang Menyertai Menarche

No

Kriteria

Frekuensi

Prosentase

1.

Baik

1

3,6%

2.

Cukup

10

35,7%

3.

Kurang

17

60,7%

Jumlah

28

100%

Hasil yang didapat menunjukkan bahwa prosentase terbanyak respoden berpengetahuan kurang sebanyak 17 responden (60,7%). Dan 10 responden (35,7%) berpengetahuan cukup sedangkan 1 responden (3,6%) berpengetahuan baik.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Menarche.

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang Menarche

No

Kriteria

Frekuensi

Prosentase

1.

Baik

1

3,6%

2.

Cukup

10

35,7%

3.

Kurang

17

60,7%

Jumlah

28

100%

 

Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa mayoritas responden berpengetahuan kurang tentang menarche yaitu 17 responden (60,7%) dan 10 responden (35,7%) berpengetahuan cukup sedangkan hanya 1 responden (3,6%) yang berpengetahuan baik tentang menarche.

 

 

 

  1. C.   Pembahasan
    1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD 2 Puntukdoro tentang Pengertian Menarche.

Dari penelitian ini mayoritas responden tingkat pengetahuan strata tahu yaitu sebanyak 20 responden (71,4%) tentang pengertian menarche. Hal ini sesuai dengan Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain sedangkan sumber-sumber untuk memperoleh pengetahuan didapat dari media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat. Responden pada penelitian ini adalah siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 yang pada umumnya kelas 5 dan kelas 6 berumur 10-13 tahun pada usia tersebut sudah terjadi menarche sehingga dari menarche yang dialami siswi kelas 5 dan kelas 6 bisa memperoleh pengetahuan dari pengalamannya.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD 2 Puntukdoro tentang Sistem Hormonal.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mayoritas responden tingkat pengetahuan strata cukup tahu yaitu sebanyak 15 responden (53,6%) tentang sistem hormonal.

Hali ini sesuai dengan penelitian Rina Hafni Lubis (2010), dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang berjudul ” Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Pada Masa Pubertas Tentang Perkembangan Organ Seks di SLTP Negeri 13 Medan Tahun 2010” mengatakan bahwa Hasil penelitian diperoleh tingkat pengetahuan tentang perkembangan organ seks yang berkaitan dengan system reproduksi pada masa puberitas kategori cukup 56,9%. Disarankan kepada siswa diharapkan aktif menggali informasi tentang perkembangan organ seks dari berbagai sumber yang dipercaya keakuratannya.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD 2 Puntukdoro tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menarche

Dari penelitian ini mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan srtata kurang tahu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi menarche yaitu sebanyak 23 responden (82,1%).

Pernyataan tersebut diatas sesuai dengan penelitian Prita Khoirotunnisa Sri Agustina (2009), dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang berjudul ”Studi Deskriptif Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Perubahan Fisik dan Psikologi pada Masa Pubertas di SMP Al-Fattah Semarang Tahun 2009” mengatakan bahwa pengetahuan responden tentang pubertas khususnya mengenai penyebab pubertas, perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fisik tersebut masih kurang sehingga para remaja disarankan lebih banyak mencari informasi tentang pubertas.

 

4. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas 5 dan Kelas 6 SD 2 Puntukdoro tentang Gejala-Gejala yang menyertai Menarche.

Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa mayoritas responden tingkat pengetahuan strata kurang tahu yaitu sebanyak 17 responden (60,7%) tentang gejala-gejala yang menyerta menarche.

Pernyataan diatas sesuai dengan pengetahuan yang kurang pada remaja mempengaruhi perasaan bingung, gelisah, tidak nyaman selalu menyelimuti perasaan seorang wanita yang mengalami menstruasi pertama kali menarche (Proverawati dan Misaroh, 2009). Dan menurut Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

 

  1. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri kelas 5 dan Kelas 6 SD Puntukdoro 2 tentang menarche.

Dari penelitian ini 17 responden (60,7%) tingkat pengetahuan strata kurang tahu tentang menarche. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Ida Rosidah (2006), dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang berjudul ”Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Menarche Pada Siswi SMP Harapan Desa Paya Pada Medan Tahun 2006” mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan responden yang disebabkan karena responden dari segi fisik dan psikologis belum matang sehingga disarankan kepada remaja untuk meningkatkan minat baca berhubungan dengan menarche.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

  1. A.   SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat mengenai tingkat pengetahuan remaja  putri tentang menarche di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan Jawa Timur tahun 2010 dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tingkat pengetahuan strata tahu tentang pengertian menarche sebanyak 20 responden (71,4%) dari 28 responden.
  2. Siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tingkat pengetahuan strata tahu sebanyak 11 responden (39,3%) tentang sistem hormonal.
  3. Siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tingkat pengetahuan strata tahu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi menarche yaitu 1 responden (3,6%).
  4. Siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan tingkat pengetahuan strata tahu sebanyak 1 responden (3,6%) dari 28 responden tentang gejala-gejala yang menyertai menarche.
  5. Siswi kelas 5 dan kelas 6 SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan mayoritas tingkat pengetahuan strata tahu tentang menarche sebanyak 1 responden (3,6%).

 

48

 

 

  1. B.   SARAN
    1. Bagi Institusi yang Diteliti

Institusi yang diteliti yaitu SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan dengan adanya penelitian ini diharapkan pihak sekolah dapat memberikan pelajaran tambahan bila perlu dimasukkan ke muatan lokal tentang kesehatan reproduksi sehingga pengetahuan siswi tentang kesehatan reproduksi meningkat.

  1. Bagi Institusi Kebidanan FIK Unissula

Institusi sebagai wahana pendidikan profesi dapat melaksanakan suatu langkah riil untuk mensosialisasikan hasil penelitian ini melalui proses belajar mengajar didalam kelas maupun dilahan praktek misalnya pada waktu PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) sehingga mahasiswa mampu menerapkan teori yang didapatkan dengan memberikan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) tentang menarche pada anak SD.

  1. Bagi Remaja

Diharapkan bagi remaja di SD Puntukdoro 2 Plaosan-Magetan untuk mencari informasi tentang kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan menarche sehingga remaja lebih paham dan mengerti menarche.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Atkinson, R., dkk., (2008). Pengantar Psikologi. Interaksara. Batam.

Budiarto, E., (2001). Biostatistik  untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.Jakarta : EGC.

 

Coad, Jane & Dunstall, Melvyn., (2006). Anatomi & Fisiologi untuk Bidan. EGC : Jakarta.

 

Crescen., (2008). Citra Remaja Perempuan Metropolis Dalam Halaman Muka Majalah Gogirl. April. 2008. 11 Maret 2010 jam 10.00 wib.

 

Damin, S., (2004). Metode Penelitian untuk Ilmu-ilmu Prilaku.Jakarta: Bumi Aksara.

 

Hafni, L., (2010). Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Pada Masa Pubertas Tentang Perkembangan Organ Seks di SLTP Negeri 13 Medan Tahun 2010. www.usu.ac.id. Juni 2010. 14 Agustus 2010 jam 23.30 wib.

 

Hidayat, A., (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika.

 

Kamus Kedokteran Dorland., (1996). EGC :Jakarta.

Khoirotunnisa, P., (2009). Studi Deskriptif Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Perubahan Fisik dan Psikologis pada Masa Pubertas di SMP Al-Fattah Semarang Tahun 2009. Perpustakaan FIK Unissula. Agustus 2009. 29 juli 2010.

 

Manuaba, I., G., (2003). Memahami Kesehatan Reproduksi, Arcan : Jakarta.

 

Notoatmodjo, S., (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.Jakarta : PT. Rineka Cipta.

 

Notoatmodjo, S., (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta: PT. Rineka Cipta.

 

Nursalam., (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.Jakarta : Rineka Cipta.

 

Pratamasari, A., (2009). Hubungan Pengetahuan Tentang Menstruasi dengan Kesiapan Remaja Putri Usia Pubertas Menghadapi Menarche Di SMP N 4 Yogyakarta. www.medicine.uii.ac.id. Mei. 2009. 19 Januari 2010 jam 14.00 wib.

 

Pratikna, A., (2003). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

 

Proverawati, A & Misaroh, S., (2009). Menarche menstruasi pertama yang penuh makna. Muha Medika :Yogyakarta.

 

Rahmawati., (2010). Masa Pubertas Remaja. http://digilib.its.ac.id Januari. 2010. 21 Januari 2010 jam 10.00 wib.

Rosidah, I., (2006). Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang Menstruasi Pertama (Menarche) Pada Siswi SMP Harapan Desa Paya Bakung Kecamatan Hamparan Perak Tahun 2006. www.helvetia.ac.id . Maret 2008. 23 Desember 2010. Jam 10.00 wib.

Sastrawinata, Sulaiman dalam Wiknjosasatro, H., (2007). Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

 

Sastroasmoro & Ismael., (2002). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.Jakarta : CV Sagung Seto.

 

Soetjiningsih., (2004). Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannya, Sagung Seto : Jakarta.

 

Sopiyudin, D., (2004). Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan.Jakarta: Arkans.

 

Sugiyono., (2007). Statistika untuk Penelitian.Bandung : CV Alfabeta.

Suryani, E dan Widyasih, H., (2008). Psikologi Ibu Dan Anak, Fitramaya : Yogyakarta.

 

Wikipedia., (2009). Kabupaten Magetan. http://id.wikipedia.org September 2009. 4 Maret 2010 jam 22.00 wib.

 

Wikipedia., (2010). Kota Surabaya. http://id.wikipedia.org Februari 2010. 5 Maret 2010 jam 14.00 wib.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: