PENERAPAN SISTEM PEMBELAJARAN REFLEKTIF DALAM UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENERAPAN SISTEM PEMBELAJARAN REFLEKTIF DALAM UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Berpikir merupakan suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. Dalam suatu proses pembelajaran, kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. Pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah, sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan.

Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi, yang menitikberatkan pada sistem, struktur, konsep, prinsip, serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis, sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif, dinamis, dan generatif, serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis, objektif, dan terbuka, menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat.

Pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis.

Persepsi dan hal seperti ini juga terjadi pada siswa SMP N Sambi 2. Banyak siswa SMP N Sambi 2 yang beranggapan bahwa matematika pelajaran yang sulit, tidak meyenangkan, dan sangat membosankan. Karena dalam kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru. Dimana Guru mengajar dengan menerangkan, memberi contoh soal dan memberi soal. Sehingga siswa hanya mendengarkan apa yang diterangkan oleh guru, yang ahirnya siswa tidak terbiasa mengemukakan ide-ide atau gagasan yang ada dalam pikiran nya. Inilah yang  membuat siswa menjadi pasif dan ahirnya malas untuk mengembangkan kemampuan berpikir nya. Pembelajaran seperti ini nampaknya kurang tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah menengah pertama.

Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. Oleh karena itu, guru hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan, yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka.

Menyadari pentingnya suatu sistem pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk sistem pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan siswa secara aktif yang menanamkan kesadaran berpikir kritis.

Peneliti memandang bahwa sistem pembelajaran reflektif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pandangan ini tentu saja berdasar, yakni dengan mengembangkan kesadaran siswa untuk melakukan refleksi terhadap dirinya, siswa akan terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih, mengingat, mengenali kembali, mengorganisasi informasi yang dihadapinya, serta dalam menyelesaikan masalah. Melalui pengembangan kesadaran untuk melakukan refleksi inilah, siswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor, mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya.

Dari uraian di atas, sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan sistem pembelajaran reflektif. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan sistem pembelajaran reflektif. Dengan begitu diharapkan sistem pembelajaran reflektif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Matematika.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, fokus dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Adakah peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika pada siswa SMP N Sambi 2 kelas VIII setelah diterapkan sistem pembelajaran reflektif ?

  1. C.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika.

  1. Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika siswa SMP N Sambi 2 kelas VIII  setelah diterapkan sistem pembelajaran reflektif.

  1. D.     Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai:

  1. Pedoman dan menjadi satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar matematika.
  2. Acuan dalam penelitian yang lebih lanjut karena hasil-hasil yang diperoleh dapat dijadikan permasalahan baru untuk dapat diadakan penelitian berikutnya.
    1. Manfaat Praktis

Pada tataran praktis, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :

  1. Bagi siswa

Diharapkan penelitian ini mampu meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa yang terkait dengan mata pelajaran matematika.

  1. Bagi Guru

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan guru dalam menerapkan sistem pembelajaran dalam rangka  dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran matematika.

  1. Bagi sekolah

Penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi pihak sekolah dalam menerapkan kebijakan pembelajaran dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran matematika di setiap kegiatan belajar mengajar.

  1. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan kajian untuk penelitian berikutnya.

  1. E.     Definisi Istilah
    1. Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi, serta membuat seleksi yang bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. Aspek-aspek dan indikator dalam berpikir kritis adalah keaktifan, pemecahan masalah soal matematika, prestasi belajar matematika. Keaktifan yang meliputi keaktifan bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan ide. Pemecahan masalah soal matematika meliputi kemampuan mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah dalam model matematika, kemampuan menganalisis masalah, memilih pendekatan dan menyelesaikan masalah. Prestasi belajar matematika adalah nilai siswa yang telah dicapai setelah melakukan proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan uji test.

  1. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar matematika yang mendorong kepercayaan diri dalam kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemapuan bekerjasama untuk dapat menyelesaikan permasalahan matematika dengan menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan.

  1. Sistem Pembelajaran Reflektif

Sistem pembelajaran reflektif (reflective learning) adalah sistem pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut. Adapun langkah-langkah sistem pembelajaran reflektif dalan suatu kelas adalah dengan belajar jurnal, belajar mitra (kelompok), belajar kontrak, dan jadwal penilaian diri. Pembelajaran reflektif melihat bahwa proses adalah produk dari berpikir dan berpikir adalah produk dari sebuah proses.

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas tentang kajian pustaka, kajian teori,dan kerangka berfikir serta pengajuan hipotesis penelitian. Kajian pustaka adalah hasil penelitian-penelitian yang relevan dengan permasalahan, Sedangkan kajian teori yang akan dibahas adalah teori – teori yang berkaitan dengan variabel penelitian.

  1. A.    Kajian Pustaka

Sebagai perbandingan dalam penelitian yang akan dilaksanakan ini peneliti akan menguraikan hasil penelitian terdahulu yang ada hubungan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.

Penelitian yang dilakukan Yesildere, Sibel and Elif B. Turnuklu (2006) tentang the effect of project-based learning on pre-service primary mathematics teachers’ critical thinking dispositions. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, A significant difference was found between the critical thinking disposition level of teacher candidates of elementary mathematics before and after their involvement in project based learning. Teacher candidates stated that the period of project-based learning had positive influences on their ways of thinking and their skill development. Kesimpulan penelitian ini bermakna bahwa Terdapat Perbedaan yang signifikan antara tingkat disposisi berpikir kritis calon guru matematika SD sebelum dan setelah mereka terlibat  dalam pembelajaran berbasis proyek. Calon guru menyatakan bahwa masa pembelajaran berbasis proyek berpengaruh positif terhadap cara berpikir dan pengembangan ketrampilan mereka.

Fajari (2008) meneliti tentang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa melalui penerapan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan bentuk aljabar. Penelitian tersebut memberikan Kesimpulan bahwa nilai rata-rata kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan kreatif yang dikenai pembelajaran kontekstual meningkat sebesar 6,375% sedangkan model konvensional meningkat 0,95 atau dapat dikatakan hampir tidak ada peningkatan. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa di bandingkan dengan konvensional.

Rochaminah (2008) meneliti tentang penggunaan metode penemuan untuk meningkatkan   kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa keguruan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran penemuan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, ditinjau berdasarkan klasifikasi LPTK dan kemampuan akademik mahasiswa calon guru.  Kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa calon guru dari LPTK dengan klasifikasi baik dalam kategori cukup sedangkan mahasiswa calon guru dari LPTK dengan klasifikasi cukup dalam kategori rendah.

Sudiarta (2009) meneliti tentang pengembangan pembelajaran berpendekatan tematik berorientasi pemecahan masalah matematika terbuka untuk mengembangkan kompetensi berpikir divergen, kritis dan kreatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi berpikir kritis, kreatif dan produktif dapat dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas yang bersifat divergen, seperti berbagai model pemecahan masalah, terutama masalah yang disajikan secara tematik, kontekstual dan terbuka.

Quitadamo, dkk (2009) meneliti tentang peer-led team learning (PLTL): a prospective method for increasing critical thinking in undergraduate science courses. Penelitian ini memberi kesimpulan bahwa PLTL has a small but positive impact on critical thinking gains in some science courses, and that it improves grade performance and retention in science and math courses, particularly for females. These results indicate PLTL has potential to improve undergraduate critical thinking. Continued development of PLTL and related methods may serve to further enhance critical thinking gains for undergraduate learners. Makna dari kesimpulan tersebut bahwa PLTL memiliki dampak yang kecil tapi positif terhadap keuntungan berpikir kritis dalam beberapa kursus ilmu pengetahuan, selain itu meningkatkan kinerja kelas dan retensi dalam kursus-kursus sains dan matematika, terutama bagi perempuan. Hasil ini menunjukkan PLTL memiliki potensi untuk meningkatkan berpikir kritis mahasiswa. Perkembangan lebih Lanjut dari PLTL dan metode terkait bisa berfungsi untuk lebih meningkatkan berpikir kritis untuk mahasiswa.

Berdasarkan data hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan inovatif ternyata mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, sehingga dalam penelitian ini peneliti berupaya menggunakan sistem pembelajaran reflektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kedudukan penelitian ini untuk mengembangkan penelitian yang sudah ada. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Adapun persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada variabel yang diteliti yaitu kemampuan berpikir kritis. Untuk lebih spesifiknya disajikan pada tabel dibawah ini:

No

Penelitian

Variabel

Kontekstual

Tematik

PLTL

Metode penemuan

PBL

Reflektif

Berpikir

Kritis

1

Fajari

V

-

-

-

V

2

Rochaminah

-

-

V

-

V

3

Sudiarta

-

V

-

-

V

4

Quidatamo

-

V

-

-

V

5

Yesildere

-

-

-

V

-

V

6

Turi H

-

-

-

-

-

V

V

Tabel 2.1

Perbedaan dan persamaan penelitian lain dengan penelitian ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Kajian Teori
  2. Bepikir Kritis

Berpikir kritis menurut Deswani (2009:119) adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi, dimana informasi tersebut didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. Gunawan (2007:177) menyatakan bahwa “ berpikir kritis adalah kemampuan untuk melakukan analisis, menciptakan dan menggunakan kriteria secara obyektif dan melakukan evaluasi data”. Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti mengenali hubungan, menganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan sebab akibat, membuat kesimpulan dan memperhitungkan data yang relevan.

Berpikir kritis merupakan pengujian rasional terhadap ide, pengaruh, asumsi, prinsip, argumen, kesimpulan, isu, pernyataan, keyakinan, dan aktivitas (Bandaman dan Bandman dalam Deswani (2009:119)). Berpikir bukan suatu proses yang statis tetapi selalu berubah secara konstan dan dinamis dalam setiap hari atau setiap waktu. Radno Harsanto dalam bukunya yang berjudul melatih anak berpikir analitis kritis dan kreatif menyatakan:

Berpikir kritis adalah salah satu sisi menjadi orang kritis yang mana pikiran harus terbuka , jelas, dan berdasarkan fakta. Seorang pemikir harus mampu memberi alasan atas pilihan keputusan yang diambilnya dan harus terbuka terhadap perbedaan keputusan dan pendapat orang lain serta sanggup menyimak alasan – alasan mengapa orang lain memiliki pendapat dan keputusan yang berbeda (Harsanto, 2005:37)

Bertolak dari beberapa pendapat di atas, dapat diartikan bahwa berpikir kritis merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi, serta membuat seleksi yang bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis.

Karakteristik dari proses berpikir kritis menurut Deswani (2009:120) adalah sebagai berikut:

  1. Konseptualisasi

Konseptualisasi adalah proses intelektual membentuk suatu konsep. Sedangkan konsep adalah fenomena atau pandangan mental tentang realitas, pikiran-pikiran tentang kejadian obyek atribut dan sejenisnya.

  1. Rasional dan beralasan

Artinya argumen yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan mempunyai dasar  kuat dari fakta atau fenomena nyata.

  1. Reflektif

Artinya seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi atau persepsi dalam berpikir atau mengambil keputusan tetapi akan menyediakan waktu untuk mengumpulkan data dan menganalisis nya berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.

  1. Pemahaman suatu sikap

Pemikir kritis akan selalu menguji apakah sesuatu yang dihadap itu lebih baik atau lebih buruk dibanding yang lain dengan menjawab pertanyaan mengapa bisa begitu dan bagaimana seharusnya.

  1. Kemandirian berpikir

Seorang pemikir kritis selalu berpikir dalam dirinya, tidak pasif menerima pemikiran dan keyakinan orang lain, menganalisis semua isu , memutuskan secara benar dan dapat dipercaya.

  1. Berpikir kreatif
  2. Berpikir adil dan terbuka

Mencoba untuk merubah dari pemikiran  yang salah dan kurang menguntungkan menjadi benar dan lebih baik.

  1. Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan

Berpikir kritis digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan kesimpulan, menciptakan sesuatu pemikiran baru, dan alternatif solusi tindakan yang diambil.

Pada dasarnya berpikir kritis merupakan suatu hal yang masuk akal (reasonable), berpikir reflektif yang terfokus pada keputusan untuk mempercayai dan melakukannya. Kemampuan berpikir kritis dapat diberdayakan dengan memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan konsepsi berpikir kritis. Berpikir dikatakan masuk akal apabila pemikir berusaha menganalisis argumen secara hati-hati, mencari bukti yang valid dan mecapai kesimpulan yang logis.

Menurut Ennis (Muhfaroyin, 2009), ada 12 indikator kemampuaan berpikir kritis yang dikelompokkan menjadi 5 aspek kemampuan berpikir kritis, yaitu:

  1. memberikan penjelasan secara sederhana yang meliputi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan, bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan.
  2.  membangun keterampilan dasar yang meliputi: mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi
  3. Menyimpulkan yang meliputi: mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi, membuat dan menentukan nilai pertimbangan.
  4. Memberikan penjelasan lanjut yang meliputi: mendefinisikan istilah dan pertimbangan definisi dalam tiga dimensi, mengidentifikasi asumsi.
  5. Mengatur Strategi dan Taktik yang meliputi: menentukan tindakan, berinteraksi dengan orang lain.
  1. Pembelajaran Matematika

Menurut Hamalik (2007:57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitasi, dan perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah yaitu mengajar yang dilakukan oleh guru dan belajar yang dilakukan oleh peserta didik. Mengajar adalah perbuatan yang dilakukan  seseorang dalam hal ini pendidik dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain dalam hal ini peserta didik melakukan kegiatan belajar, dengan kata lain mengajar merupakan aktivitas kompleks yag dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa sehingga terjadi proses belajar. Menurut Gunawan (2007:158) agar dapat mengajar dengan efektif  maka perlu memperhatikan beberapa hal yaitu perencanaan, catatan materi dan alur penyajian, mengenali gaya belajar diri sendiri, pemilihan kata-kata yang tepat dan pembukaan yang berkesan.

Belajar menurut Hamalik  (2007: 36) adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu yakni mengalami. Dalam proses pembelajaran ada tiga komponen penting yang saling berkaitan satu sama lain yaitu kurikulum yang memuat materi yang akan diajarkan, proses yang menunjukkan bagaimana materi diajarkan dan produk yang merupakan hasil dari proses pembelajaran (Gunawan, 2007:1). Ketiga aspek ini sangat penting karena merupakan satu kesatuan yang membentuk lingkungan pembelajaran.

Matematika merupakan pelajaran yang membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistemati, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Guru sangat berperan didalam pembelajaran matematika yaitu membelajarkan matematika dengan tujuan memberikan pemahaman dan perspektip pemecahan masalah. Dimana siswa mampu meengembangkan logika dan bukan hanya menghitung jawaban atas soal matematika belaka. Tetapi membangun interaksi antara guru dengan siswa dimana guru mengajak siswa untuk memahami konsep-konep matematika sehingga terjadi pembejaran yang menarik dan menyenangkan serta siswa dapat menerapkan aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus dalam pembelajan matematika adalah pendekatan pemecahan masalah yang mencangkup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusi. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah menurut gunawan (2007:179) meliputi mengenali masalah, menganalisis masalah, merumuskan suatu hipotesis, merumuskan pertanyaan yang sesuai, menghasilkan ide-ide, mengembangkan kemungkinan-kemungkinan solusi, menetapkan solusi yang terbaik, menerapkan solusi yang telah dipilih, mengamati dan mengevaluasi solusi, serta menaarik kesimpulan.

Berdasarkan beberapa uraian pendapat diatas pembelajaran matematika dapat diartikan suatu proses belajar matematika yang mendorong kepercayaan diri dalam kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemapuan bekerjasama untuk dapat menyelesaikan permasalahan matematika dengan menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan.

  1. Sistem Pembelajaran Reflektif

Given (Dharma, 2007:301) menjelaskan sistem pembelajaran reflektif merupakan sistem paling canggih, meskipun sistem ini paling ahir berkembang. Sistem ini adalah yang terahir berkembang sempurna dalam masa hidup seseorang. Pembelajaran reflektif berurusan dengan fungsi otak dan tubuh seperti pemikiran tingkat tinggi dan pemecahan masalah. Pada saat ini sistem reflektif secara mental menghidupkan kembali masa lalu sambil memikirkan masa depan.

Menurut Perkins (Dharma, 2007:302) sistem reflektif memungkinkan kita menjadi apapun yang kita mampu jika kecerdasan reflektif dipupuk dan dikembangkan dengan serius. Sparrow, Tim and Jo Maddock dalam artikel nya reflective lerning menyatakan:

 The practice of reflective learning is part of a continuous process of learning and developing: I become aware of my next experience, reflect upon it and evaluate it in relation to my other experiences and reinforce or revise my self knowledge. (Sparrow, Tim and Jo Maddock, 2006).

Adapun makna dari kalimat diatas, Praktek pembelajaran reflektif adalah bagian dari proses pembelajaran dan perkembangan: Saya menjadi sadar dari pengalaman saya berikutnya, merefleksikan dan mengevaluasi ini dalam kaitannya dengan pengalaman saya yang lain dan memperkuat atau merevisi pengetahuan diri saya.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pembelajaran reflektif (reflective learning) adalah sistem pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut. Pembelajaran reflektif juga mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif dan reflektif, mempertanyakan sikap dan mendorong kemandirian pembelajar. Pembelajaran reflektif melihat bahwa proses adalah produk dari berpikir dan berpikir adalah produk dari sebuah proses

Aspek tentang siapa diri kita yang bisa dipelajari dan diraih ini sebagai perangkat pikiran (mindware). Perangkat pikiran adalah semua hal yang bisa dipelajari manusia yang membantu mereka mengatasi berbagai masalah, membuat keputusan, memahami konsep yang sulit dan melaksanakan tugas intelektual lain yang membebani dengan lebih baik. Kecermatan berpikir dan pemikiran reflektif perlu dipupuk karena keduanya benar-benar merupakan kecerdasan yang bisa dipelajari. Given (Dharma, 2007:304) menyatakan bahwa ”sistem pembelajaran reflektif berfungsi terbaik ketika diajarkan strategi reflektif ”.

Menurut Perkins (Dharma, 2007:304) menyatakan bahwa upaya meningkatkan pemikiran dan pembelajaran reflektif dengan menghindari lubang-lubang kognisi sebagai berikut:

  1. Luangkan waktu secukupnya untuk memecahkan masalah, kumpulkan bukti yang lengkap, hindari penilaian tergesa-gesa.
  2. Kembangkan keterbukaan pikiran agar dapat melihat ke luar dari posisi keyakinan diri yang menumbuhkan egoisme.
  3. Pertimbangkan setiap tujuan dan pandangan altrernatif secara obyektif.
  4. Buat beberapa interpretasi dan sudut pandang sebelum mengambil keputusan.
  5. Hentikan prilaku-prilaku otomatis dan pikirkan kembali tindakan yang sudah menjadi kebiasaan.
  6. Ingat, setiap orang melihat hal yang sama melalui lensa pengalamannya sendiri.
  7. Tarik kesimpulan dari bacaan.
  8. Kembangkan argumen tertulis yang meyakinkan dan tersusun dengan baik.
  9. Cobalah membuat parafrase dari berbagai konsep kunci sains dan matematika.
  10. Carilah dan berpikirlah dalam bentuk pola.
  11. Kenali upaya untuk merasionalkan pikiran dan perilaku.
  12. Pertimbangkan pandangan alternatif dari pemikiran yang sempit.
  13. Perjelas pemikiran yang ruwet, tidak tepat dan tidak jelas.
  14. Kenali pemikiran yang bertele-tele dan tidak perlu.
  15. Pertahankan sikap positif terhadaf pemikiran, pemantauan, dan pengelolaan diri, penggunaan strategi dalam pengambilan keputusan dan penjajakan berbagai kemungkinan.

Enam langkah proses pembelajaran reflektif menurut Tebow (2008) sebagai berikut:

  1. Langkah 1: Sebuah rasa ketidaknyamanan batin

Selama tahap pertama ini, pelajar merasa sebuah kesadaran bahwa sesuatu yang tidak cocok ada di dalam diri mereka.

  1. Langkah 2: Identifikas dan klarifikasi dari perhatian

Identifikasi masalah sepenuhnya berbasis diri. Individu menjadi menyadari masalah ini dan ini menyebabkan perubahan cara pandang seseorang berdasarkan  pengalaman diri sendiri.

  1. Langkah 3: Keterbukaan terhadap informasi baru

Keterbukaan terhadap informasi baru dari sumber internal dan eksternal, dengan kemampuan untuk mengamati dan mengambil dari berbagai perspektif. Kegiatan ini termasuk berbicara secara terbuka dengan orang lain, melihat keputusan yang mungkin dari semua pihak, membaca literatur terkait dan tidak terkait dengan masalah yang di hadapi dan bertanya pertanyaan sulit pada diri sendiri.

  1. Langkah 4: Resolusi

Tahap ini adalah tahap bantuan dalam proses pembelajaran reflektif. Resolusi bukanlah jawaban ahir tetapi merupakan tempat dimana individu merasa konten tentang masalah ini.

  1. Langkah 5: Menetapkan kesinambungan diri dengan masa sekarang, dan masa depan.

Pelajar menghadapi taantangan yang berkaitan tentang perubahan diri, dari diri masa lalu ke area lain dari kehidupan sekarang dan untuk perilaku masa depan. Dengan demikian perasaan diskontinuitas dalam diri hadir.

  1. Langkah 6: pengambilan keputusan

Memutuskan apakah akan bertindak berdasarkan hasil dari proses reflektif. Ini adalah langkah pengambilan keputusan dari proses pembelajaran reflektif.

Proses penggunaan sistem pembelajaran reflektif dalam sebuah kelas dapat dilakukan dengan cara berikut:

  1. Belajar Jurnal

Pertama adalah belajar jurnal, para siswa diminta untuk membuat jurnal mingguan di mana mereka merekam dan berkomentar tentang pengalaman mereka sebagai pelajar dalam kelas tersebut. Dibutuhkan waktu lima menit untuk siswa menulis jurnal tersebut. Pada akhir  pelajaran jurnal tersebut di kumpulkan kepada guru untuk diberi komentar.

  1. Belajar Mitra (kelompok atau kerjasama)

Belajar mitra berguna untuk mendiskusikan ide-ide yang dibangkitkan, mengeksplorasi kepentingan mereka sendiri, bertukar pikiran untuk memberikan komentar satu sama lainnya.

  1. Belajar Kontrak

Penggunaan  belajar kontrak pada pembelajaran refleksi ada tiga tahap:

  1. Sebelum penyusunan sebuah draft awal untuk disampaikan kepada  siswa harus fokus pada pengalaman mereka, kebutuhan mereka belajar dan bagaimana mereka bisa belajar dengan baik.
  2.  Dalam dialog dengan siswa, konsepsi pembelajaran ini didiskusikan dan kontrak yang direvisi dihasilkan.
  3.  Sebelum penyerahan hasil ahir belajar mereka, siswa diminta dalam kontrak untuk meninjau pembelajaran mereka dan bagaimana mereka dapat menyampaikannya kepada orang lain.
  4. Jadwal Penilaian Diri

Jadwal penilaian diri digunakan sebagai sarana memungkinkan siswa untuk menyatukan berbagai pembelajaran mereka dalam suatu kelas, untuk merefleksikan prestasi mereka dan mengkaji implikasinya untuk pembelajaran lebih lanjut. (Tebow, 2008)

  1. C.    Kerangka Pemikiran

Prosedur penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan tindakan atau perbaikan dari perencanaan tindakan terdahulu. Penelitian ini diperlukan evaluasi awal untuk mengetahui penyebab rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dan observasi awal sebagai upaya untuk menemukan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk melengkapi kajian teori yang ada dan untuk menyusun perencanaan tindakan yang tepat dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Tindakan kelas yang dilakukan berupa pengajaran secara sistematik dengan tindakan pengelolaan kelas melalui strategi pendekatan, metode, dan teknik pengajaran yang tepat dengan penerapan kondisional yang mengacu pada fakta-fakta dan perencanaan tindakan yang telah disusun sebelumnya. Tindakan dilakukan secara siklus, maksudnya setelah tindakan pertama selesai dapat dilakukan tindakan seterusnya dan dalam setiap tindakan peneliti dilakukan di depan kelas. Dalam sekali tindakan biasanya ditemukan permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian sehingga siklus tersebut harus terus berulang sampai permasalahan tersebut teratasi. Adapun kerangka berpikir ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Masih rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa yang meliputi:

  1. Keaktifan bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan ide.
  2. Kemampuan menyelesaikan permasalahan soal matematika; mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah dalam model matematika, menganalisis masalah, memilih pendekatan dan menyelesaikan masalah.
  3. Prestasi belajar matematika.

Gambar 2.1 Alur Kerangka Pemikiran Tindakan Kelas

  1. D.    Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti bagi problema dalam  penelitian. Dengan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang bersifat sementara yang akan dikaji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan.

Berdasarkan hasil dari tinjauan pustaka, kajian teori, dan kerangka pikir diatas, maka hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah pembelajaran matematika melalui sistem pembelajaran reflektif  dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara yang digunakan dalam penelitian yaitu langkah-langkah yang sistematis sebagaimana langkah dalam metode ilmiah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun bagian-bagian pada metode penelitian ini adalah

  1. A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2008), menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas atau istilah dalam bahasa inggris adalah classroom action research (CAR) sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu dikenal dan ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas.

Menurut Susilo (2009:16), PTK adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut dengan classroom action research dalam bahasa inggris. Yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas bukan sekedar mengajar seperti biasanya, tetapi harus mengandung suatu pengertian, bahwa tindakan yang dilakukan didasarkan atas upaya meningkatkan hasil, yaitu lebih baik dari sebelumnya. Penelitian tindakan kelas itu sendiri bersifat praktis, situasional dan kondisional berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berfikir dari tindakan yang dilakukan.

Penelitian ini dilakukan melalui proses kerja kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas dan peneliti di lingkungan sekolah. Kegiatan perencanaan awal dimulai dari melakukan identifikasi masalah dan memfokuskan permasalahan yang perlu diangkat sampai penyusunan usulan penelitian. Pada kegiatan ini juga mendiskusikan cara melakukan pengamatannya. Penelitian dan dan guru bekerja sama dalam penyusunan perencanaan berikutnya, dan didiskusikan berdasarkan siklus yang telah dilaksanakan.

Menurut Susilo (2009:16), dalam prakteknya, PTK adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup empat langkah yaitu:

  1. Merumuskan masalah dan merancang tindakan (planning).
  2. Melaksanakan tindakan (acting) dan pengamatan (observing).
  3. Merefleksikan (reflecting) hasil pengamatan
  4. Perbaikan atau perubahan perencanaan (replanning) untuk pengembangan tingkat keberhasilan

Pelaksana tindakan peneliti adalah peneliti yang berperan sebagi guru kelas. Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat bersama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran matematika dengan menggunakan sistem pembelajaran Reflektif

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang mengkaji terhadap permasalahan dengan ruang lingkup yang tidak terlalu luas yang perilaku seseorang atau kelompok orang tertentu di lokasi tertentu, disertai dengan penelaahan yang diteliti terhadap suatu perlakuan dalam rangka merubah, memperbaiki, mengembangkan atau meningkatkan mutu perilaku yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika.

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian
  1. Tempat penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMP N Sambi 2, Boyolali, yang beralamatkan di Trosobo, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Alasan pemilihan sekolah ini karena SMP N 2 Sambi letaknya yang cukup strategis serta SMP N 2 Sambi merupakan SMP N yang kualitasnya cukup bagus.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 pada awal bulan januari 2010 sampai dengan akhir bulan april 2011.

Waktu kegiatan penelitian di SMP N 2 Sambi, Boyolali ditunjukkan dalam tabel 3.1 di bawah ini:

Tabel 3.1

Tabel kegiatan penelitian di SMP N Sambi 2, Boyolali

Januari 2011

Februari 2011

Maret  2011

April 2011

Kegiatan

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

Minggu

X

X

X

X

Perencanaan

X

X

X

X

Pelaksanaan

X

X

X

X

Analisis Data

X

X

X

X

Pelaporan

  1. C.    Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sambi sebagai subyek yang menerima tindakan. Guru matematika kelas VIII SMP Negeri Sambi 2 bertindak sebagai subyek yang memberikan tindakan. Kepala sekolah sebagai subjek yang membantu melakukan perencanaan, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan, Peneliti sebagai subyek yang melakukan perencanaan, pengunpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan.

  1. D.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara praktisi (guru, kepala sekolah dan siswa) dan peneliti, yang selalu berupaya untuk memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang efektif sehingga dimungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan rencana yang telah dibuat peneliti guna meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar. Dari rencana penelitian di atas maka dibuatlah prosedur sebagai berikut:

Gambar 3.1

Langkah-langkah Penelitian Tindakkan Kelas (Arikunto, 2008: 16)

  1. Perencanaan

Perencanaan ini mengacu pada hasil awal yang telah dirumuskan sebagai fokus permasalahan. Pada perencanaan ini melibatkan guru, yaitu memadukan hasil pengamatan serta persepsi guru terhadap siswa selama proses kegiatan berlangsung.

Menurut Susilo (2009:20) kegiatan perencanaan mencakup: (1) identifikasi masalah, (2) analisis penyebab adanya masalah, dan (3) pengembangan bentuk tindakan (aksi) sebagai pemecahan masalah.

Pada tahap perencanaan ini dilakukan penyusunan langkah-langkah persiapan tindakan pembelajaran yang terdiri dari:

  1. Identifikasi Masalah dan Penyebabnya

Diskusi ini dilakukan dalam upaya merumuskan permasalahan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan berpikir kritis sisiwa dalam  belajar matematika melaui sistem pembelajaran reflektif. Dalam diskusi ini dianalisis berbagai kemungkinan penyebab masalah yang dihadapi berdasrkan observasi kelas. Masalah-masalah yang sudah ada dapat membantu mengetahui kendala dalam mengembangkan sistem pembelajaran reflektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam belajar Matematika.

Diskusi antar peneliti dengan guru matematika dilakukan untuk membahas batasan-batasan masalah yang terjadi pada siswa kelas VIII SMP N Sambi 2, Boyolali. Guru mempunyai banyak pengalaman dalam proses pembelajaran dan  guru tahu akan masalah-masalah yang timbul selama proses pembelajaran. Peneliti dan guru akan lebih mudah dalam mendiskusikan penyebabnya dan cara penyelesaian.

Proses identifikasi siswa dilakukan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa melalui serangkaian kegiatan pengumpulan data. Tindakan yang ditawarkan pada identifikasi siswa antara lain:

1)      Wawancara dengan guru matematika kelas VIII SMP N Sambi 2 sebelum melaksanakan tindakan.

2)      Melakukan observasi terhadap guru matematika kelas VIII SMP N Sambi 2 pada saat proses pembelajaran matematika sebelum pelaksanaan tindakan.

  1. Perencanaan solusi masalah

Perencanaan solusi masalah dilakukan dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika melalui sistem  pembelajaran Reflektif. yaitu pembenahan dalam proses pembelajaran matematika:

1)      Dalam mengajar, mengajar menggunakan sistem pembelajaran reflektif. Tindakan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam belajar matematika adalah:(a) Membangun hubungan baik dengan siswa yaitu menjalin rasa simpati dan saling perhatian, (b) Memberikan tujuan pembelajaran khusus, (c) Menyampaikan materi ajar secara sistematik dan simple, (d) Memberi tugas dengan petunjuk yang jelas dan membimbingnya, (e) Merespon siswa.

  1. Penyusunan program tindakan pembelajaran

Berdasarkan tindakan pembelajaran yang akan dilaksanakan, kemudian disusun RPP. RPP merupakan catatan hasil pemikiran awal peneliti dalam mengelola proses pembelajaran, karena itu RPP bersifat fleksibel dan memberi kemungkinan bagi peneliti untuk menyesuaikan dengan reaksi siswa dalam proses pembelajaran.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan dilakukan berdasarkan tindakan yang telah disusun atau dibahas. Walaupun demikian, tindakan tidak secara mutak dikendalikan oleh rencana karena secara mendasar tindakan mengandung resiko yang timbul secara tiba-tiba dan tak terduga sehingga akibat yang muncul dari perubahan dalam pembelajaran di kelas.

  1. Pengamatan atau Observasi

Kegiatan observasi atau pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran lengkap secara objektif tentang perkembangan proses pembelajaran, dan pengaruh dari tindakan (aksi) yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data. Atau biasa dikatakan sebagai kegiatan merekam informasi dampak dari pelaksanaan tindakan baik dengan atau tanpa alat bantu. Data yang dihimpun melalui pengamatan ini meliputi data kuantitatif dan kualitatif sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan.

  1. Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mengadakan upaya evaluasi yang dilakukan peneliti, guru dan tim pengamat dalam penelitian tindakan kelas. Refleksi dilakukan dengan cara berdiskusi terhadap berbagai masalah yang muncul di kelas penelitian yang diperoleh dari analisis data sebagai bentuk dari pengaruh tindakan yang telah dirancang.

Refleksi secara rutin dilakukan setiap akhir putaran penelitian sampai selesai. Secara informal setiap hari kerja diadakan dialog antara guru matematika dan peneliti untuk membahas hal-hal yang diperlukan penanganan segera.

  1. E.     Teknik Pengumpulan Data

Menurut Susilo (2009:12), dalam proses pengumpulan data kita bisa memperolehnya dengan cara-cara penggunaan alat monitoring, yaitu tes, pengamatan, catatan jurnal, analisis dokumen, kartu, portofolio, wawancara, kuesioner (angket), rekaman suara atau gambar (video), sosiometri, dan slide. Data-data tersebut dihimpun karena diperlukan sebagai bahan pertimbangan mengenai keberhasilan suatu bentuk tindakan yang dilakukan sebagai alternative pemecahan masalah sesuai dengan indikator-indikator yang sudah ditetapkan.

Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan oleh peneliti, guru matematika dan kepala sekolah. Data-data tersebut diperoleh melalui wawancara, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang dibedakan menjadi dua yaitu metode pokok dan metode bantu.

  1. Metode Pokok
  2. Metode Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto 2006:127). Metode tes digunakan sebagai dasar untuk mengelompokkan sample dan penentuan sample yang akan diwawancarai, test dilakukan secara tertulis. Teknik test digunakan untuk mendapat data nilai prestasi kemampuan matematika setelah penelitian berlangsung.

  1. Metode Obsevasi

Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematika (Arikunto, 2006:30). Dalam penelitian ini yang akan diobservasi adalah fenomena yang terjadi pada saat pembelajaran matematika berlangsung.

  1. Metode Bantu
  2. Metode Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode untuk memperoleh atau mengetahui sesuatu dengan buku-buku, arsip yang berhubungan dengan yang diteliti. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah dan nama siswa kelas VIII, serta foto rekaman proses tindakan penelitian.

  1. Catatan Lapangan

Catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif.

Catatan lapangan digunakan untuk mencatat temuan selama pembelajaran yang diperoleh peneliti yang tidak teramati dalam lembar observasi, bentuk temuan ini berupa aktivitas siswa dan permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran.

  1. F.     Instrumen Penelitian
  2. Penyusunan Instrumen

Instrumen penelitian disusun oleh peneliti bersama mitra guru matematika dengan menjaga validitas isi instrumen yang telah disusun. Berdasarkan cara pelaksanaan dan tujuan, penelitian ini menggunakan observasi berbentuk observasi penuh dari awal hingga akhir. Observasi dilakukan dengan pedoman yang telah dipersiapkan dan dibagi menjadi 3 bagian, antara lain : (a) observasi tindak mengajar yang disesuaikan dengan rencana pembelajaran; (b) observasi tindak mengajar yang berkaitan dengan inisiatif dan reaksi dari siswa kelas VIII dalam pembelajaran matematika; (c keterangan tambahan yang berkaitan dengan tindakan mengajar maupun tindakan belajar yang belum terjaring.

  1. Uji Validitas Isi Instrumen

Instrumen penelitian tindakan kelas ini disusun untuk mengukur peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Menurut Arikunto  (2006:67), suatu tes atau instumen dikatakan memiliki validitas isi jika menngukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan, validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran.

  1. G.    Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan implementasikan sistem pembelajaran matematika yang dilakukan guru dan untuk menghitung presentase jumlah siswa yang berhasil dalam pembelajaran tersebut. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode alur yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan data sehingga merupakan proses siklus.

Reduksi data adalah proses pemilikan, pemusatan perhatian pada penyerdehanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Kegiatan ini dilakukan setelah tindakan dilaksanakan. Penyajian data dilakukan dalam rangka pemahaman terhadap sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi.

 

  1. H.    Keabsahan Data

Dalam penelitian ini keabsahan data dengan triangulasi sumber, metode penelitian serta pengecekkan anggota. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek balikan informasi satu dengan informasi yang lainnya. Adapun triangulasi metode dilaksanakan dengan memanfaatkan penggunaan beberapa metode yaitu obsevasi dan dokumentasi untuk informasi dengan harapan keabsahan data dapat diperhatikan.

  1. I.       Indikator Keberhasilan

Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika. Untuk mengetahui tingkat pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika, dapat dilihat dari beberapa aspek. Adapun aspek-apek dan indikator yang dijadikan sebagai patokan untuk menilai kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:

  1. Keaktifan yang meliputi keaktifan bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan ide.
  2. Pemecahan masalah soal matematika meliputi kemampuan mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah dalam model matematika, kemampuan menganalisis masalah, memilih pendekatan dan menyelesaikan masalah.
  3. Prestasi belajar matematika.

Indikator – indikator yang dijadikan sebagai patokan untuk menilai kemampuan siswa dalam kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika tersebut apabila untuk keaktifan mencapai , pemecahan soal matematika mencapai  dan prestas belajar mencapai  maka ada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika. Apabila kurang dari patokan yang di tetapkan maka belum terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga perlu dilakukan tindakan selanjutnya sampai terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

                                , dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Deswani. 2009. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba Medika.

Dharma, Lala Herawati. 2007. Brain Based Teaching: Merancang Kegiatan Belajar Mengajar Yang Melibatkan Otak, Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetik dan Reflektif.  Bandung: Kaifa.

Fajari, Atik Fitriya Nurul. 2008. “Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Bentuk Aljabar”. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammdiyah Surakarta.

Gunawan, Adi W. 2007. Genius Learning Strategy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Harsanto, Radno. 2005. Melatih Anak Berpikir Analitis Kritis dan Kreatif. Jakarta: Grasindo.

Muhfaroyin. 2009. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis [Online].  Tersedia:http://zanikhan.multiply.com/journal/item/5570/Memberdayakan-Kemampuan-Berpikir-Kritis.Html. [26 Desember 2010].

Quitadamo, Ian J, dkk. 2009. “Peer-Led Team Learning: A Prospective Method for Increasing Critical Thinking in Undergraduate Science Courses”. Dalam Spring 2009 vol.18, No. 1 [Online]. Tersedia:  http://www.pdfchaser.com/Peer-Led-Team-Learning%3A-A-Prospective-Method-for-Increasing-….html#. [20  Januari 2011].

Rochaminah, Sutji. 2008. “Penggunaan Metode Penemuan untuk Meningkatkan   Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa Keguruan”. Makalah [Online]. Tersedia: http://www.pdfchaser.com/penggunaan-metode-penemuan-untuk-meningkatkan.html. [20  Januari 2011].

Sparrow, Tim and Jo Maddock. 2006. “Reflective Learning”. Dalam Applied emotional intelligence [Online]. Tersedia: http://www.jca.biz/microsites/ iete/pdf/Scale%2016%20Reflective%20learning.pdf. [8 Januari 2011 ].

Sudiarta, I Gusti Putu. 2009. “Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen, Kritis dan Kreatif”. Artikel [Online]. Tersedia: http://www.pdfchaser.com/pembelajaran-pendekatan-tematik.pdf.html. [20  Januari 2011]

Susilo. 2009. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Tebow, Fall Melinda. 2008. “Reflective Learning in Adult Education”. Dalam  Artikel [online]. Tersedia: http://adulteducation.wikibook.us/index. php?title=Reflective LearninginAdult_Education. [26 Desember 2010].

Yesildere, Sibel and  Elif B. Turnuklu. 2006. “The Effect of Project-Based Learning on Pre-service Primary Mathematics Teachers’ Critical Thinking Dispositions”. Dalam Int Online J Science Math Ed vol 6 pp 1-11. Tersedia: http://www.upd.edu.ph/~ismed/online/articles/project/ Vol6_The Effect.pdf. [20 Januari 2011].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: